4 Peringatan WHO untuk Beraktivitas Aman Saat Pandemi Covid-19, Vaksin dan Tunda Pemeriksaan Gigi

Cermati 4 peringatan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) untuk tetap aman beraktivitas di saat pandemi Covid-19.

Penulis: Frida Anjani | Editor: Adrianus Adhi
EPA-EFE/SALVATORE DI NOLFI
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 

Dilansir New York Times (9/7/2020), tempat tertutup yang bisa menjadi tempat penularan Covid-19 di udara antara lain restoran, klub malam, tempat ibadah, tempat kerja, atau tempat-tempat lain di mana orang berteriak, berbicara, dan bernyanyi.

"Teori menunjukkan bahwa sejumlah droplet pernapasan dapat menghasilkan aerosol. Ini terjadi saat menguap, bernapas normal, dan saat berbicara," kata WHO.

Dengan demikian, orang yang rentan dapat menghirup aerosol dan dapat terinfeksi jika aerosol itu mengandung virus dalam jumlah cukup untuk menyebabkan infeksi ke orang lain.

Namun hingga saat ini, WHO dan para ahli masih mencari tahu berapa proporsi droplet yang diembuskan saat menguap untuk menghasilkan aerosol.

2. Vaksin tak akan tersedia sebelum akhir 2021

Ketika virus corona terus menginfeksi orang-orang di dunia, sejumlah negara saling berlomba untuk menemukan vaksin atau obat untuk menyembuhkan pasien Covid-19.

Kendati demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa kecil kemungkinan untuk memiliki vaksin tersebut sebelum akhir 2021.

Pengembangan dan distribusi massal vaksin secara luas dipandang sebagai cara yang paling mungkin untuk mengendalikan Covid-19.

Tiga perusahaan farmasi terbesar AS, Inovio, Moderna, dan Pfizer kini telah memulai uji klinis, yaitu tahap pertama dalam pengembangan vaksin.

Sementara itu, para peneliti di Oxford University yang didukung oleh Pemerintah Inggris mengatakan mereka bertekad untuk memproduksi vaksin pada musim gugur nanti.

Pejabat Senior WHO Dale Fisher menyebut vaksin untuk Covid-19 tidak akan siap hingga akhir tahun depan. "Saya pikir akhir tahun depan adalah ekspektasi yang sangat masuk akal," kata Fisher dilansir dari CNBC, Senin (4/5/2020). 

3. Bahayanya nasionalisme vaksin

Selain itu, WHO juga memperingatkan mengenai bahayanya "nasionalisme vaksin" bagi negara-negara adidaya yang menyimpan perawatan medis/kesehatan untuk diri mereka sendiri.

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan, nasionalisme vaksin tidak baik lantaran tindakan tersebut tidak mempermudah WHO atau sejumlah negara dalam memberantas Covid-19.

"Agar dunia pulih lebih cepat, ia harus pulih bersama, karena ini adalah dunia yang mengglobal di mana ekonomi saling terkait satu sama lain. Sebagian dunia atau beberapa negara tidak bisa menjadi tempat berlindung yang aman dan pulih," ujar Tedros.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved