Berita Gresik Hari Ini

Kirab Pusaka Tongkat, Cara Warga Bawean Tolak Wabah Penyakit di Desa Sebagai Tradisi

Kirab pusaka tongkat itu merupakan tradisi turun temurun warga Desa Diponggo, Kecamatan Tambak, Bawean, Gresik agar terbebas dari penyakit.

Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Willy Abraham
Warga Desa Diponggo, Kecamatan Tambak, Bawean, Gresik saat menjalankan kirab pusaka tongkat kayu sebagai tradisi untuk menghindarkan desa dari wabah penyakit, Jumat (4/9/2020) 

Penulis : Willy Abraham , Editor : Dyan Rekohadi

SURYAMALANG.COM, GRESIK – Tongkat kayu yang diukir diarak keliling Desa Diponggo, Kecamatan Tambak, Bawean, Gresik.

Aktivitas ini adalah tradisi yang disebut sebagai penolak wabah.

Kirab pusaka tongkat itu merupakan tradisi turun temurun warga setempat agar terbebas dari penyakit.

Warga membawa tongkat itu beramai-ramai keliling desa. Selain mambawa pusaka, tokoh adat dan warga setempat juga melafalkan dzikir dan sholawat.

Tradisi ini diyakini masyarakat sebagai penolak bala atau penyakit di tengah pandemi covid-19, tradisi kirab pusaka dianggap sangat tepat digelar untuk memulihkan suasana dari pandemi Covid-19.

Tradisi ini sudah dijalankan selama puluhan tahun sejak tokoh yang disakralkan Waliyah Zainab datang ke Pulau Bawean.

"Tongkat kayu disimbolkan sebagai pusaka penjaga diri. Sebab menurut cerita-cerita para leluluhur, para tokoh dan ulama’ sebelumnya, berdakwah dengan menggunakan tongkat," ujar Kepala Desa Diponggo, Muhammad Salim, Jumat (4/9/2020).

Disamping menjalankan tradisi juga menjaga amanah Waliyah Zainab. Tokoh yang sampai sekarang menjadi panutan masyarakat setempat.

Cara mengelilingi desa diibaratkan untuk memagari dari wabah penyakit.

"Tentu mengelilingi itu dibarengi dengan bacaan sholawat dan dzikir. Tradisi kirab itu hanya boleh diikuti oleh para bapak dan anak laki-laki. Sedangkan untuk kaum perempuan, mempersiapkan alat dan prasarana kirab. Seperti membakar kemenyan dan lain-lain," tutupnya.

Pandemi sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, lanjut Salim, hanya saat ini istilahnya berbeda.

"Kami masyarakat Bawean ingin mewarisi tradisi, yaitu bagimana cara orang dulu membebaskan diri dari balak atau musibah pandemi covid-19," tuturnya.

Diceritakan, jauh sebelum masyarakat Bawean mengenal Islam, wilayah pulau ini masih dikuasai oleh Majapahit, melalui Kadipaten Tuban.

Kemudian warga setempat mulai mengenal Islam sejak dua tokoh pendakwah dari Jawa datang. Keduanya adalah, Syekh Maulana Masud dan Waliyah Zainab.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved