Nasional
Indonesia Kadung Beli Vaksin Covid-19 dari China, Tapi Efektivitasnya Belum Jelas dan Salah Strategi
Indonesia Terlanjur Beli Vaksin Covid-19 dari China, Tapi Efektivitasnya Belum Jelas & Salah Strategi
SURYAMALANG.COM - Keampuhan vaksin virus corona, Sinovac, buatan China masih dipersoalkan.
Padahal, Pemerintah Indonesia sudah mendatangkan 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 buatan perusahaan farmasi China tersebut.
Efektivitas Vaksin Sinovac dalam menanggulangi pandemi virus corona pun masih diragukan.
Terbaru, Sinovac Biotech Ltd memberikan pernyataan mengenai efektivitas vaksin virus corona yang diproduksi perusahaan tersebut.
Pernyataan ini disampaikan menanggapi pernyataan PT Bio Farma yang menyebut efektivitas vaksin mencapai 97 persen dalam uji klinis awal.
Namun, Bio Farma kemudian memberikan klarifikasinya soal ini.
Juru Bicara Sinovac Biotech Ltd menyebutkan, hingga saat ini belum diketahui kemanjuran dari vaksin tersebut.
Baca juga: Inilah Enam Vaksin Covid-19 yang Digunakan di Indonesia : Ada dari China, Inggris Hingga Amerika
Baca juga: China Mulai Vaksinasi Covid-19 pada Awal 2021, Ini Provinsi dan Golongan Orang yang Dapat Prioritas
Melansir Bloomberg, Selasa (8/12/2020), menurut Sinovac, angka 97 persen mengacu pada tingkat serokonversi yang terpisah dari kemanjuran vaksin.
Pasalnya, tingkat serokonversi yang tinggi tidak berarti bahwa vaksin tersebut efektif melindungi orang dari virus corona.
Lantas, apakah vaksin ini berbahaya jika dilanjutkan?

Belum bisa dipastikan
Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono mengatakan, keamanan dan efikasi atau kemanjuran vaksin Sinovac memang belum bisa dipastikan.
Hal itu menyusul masih dilakukannya uji klinis vaksin fase ketiga, serta belum keluarnya izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Oleh sebab itu, Pandu mewanti-wanti kepada pemerintah dan masyarakat untuk tidak terlena euforia vaksin virus corona ini.
"Karena studinya belum selesai, efek samping dari vaksin ini saya juga belum tahu. Problem terbesar ini," kata Pandu saat dihubungi Kompas.com, Jumat (11/12/2020).