Breaking News
Selasa, 14 April 2026

Berita Malang Hari Ini

PJT 1 Ingatkan Kerawanan Longsor Kota Malang di Tepian Sempadan Sungai

Bencana longsor masih menjadi ancaman di wilayah hulu Sungai Brantas, khususnya di wilayah Kota Malang.

Penulis: Benni Indo | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Kondisi rumah korban Roland Sumarno di Perumahan Sulfat Inside Jalan Sadang, Blimbing, Kota Malang. Tampak halamn depan rumah yang sudah tergerus longsor , Senin (18/1/2021) malam. Korban hingga kini dilaporkan hilang setelah terbawa longsor dan diduga hanyut di sungai Bango 

SURYAMALANG.COM, BATU - Direktur Utama Perum Jasa Tirta (PJT) I, Raymond Valiant Ruritan mengatakan bencana longsor masih menjadi ancaman di wilayah hulu Sungai Brantas, khususnya di wilayah Kota Malang. Ia pun mengimbau agar kewaspadaan tetap ditingkatkan.

Jasa Tirta I mengingatkan juga kerentanan longsor di tepian sempadan sungai. Selama Januari 2021 telah terjadi 22 kejadian longsor di Kota Malang, seluruhnya terjadi pada sempadan sungai.

Tanggal 18 Januari 2021 terjadi longsor di JI Sadang, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing. Peristiwa itu mengakibatkan korban jiwa karena tenggelam di Sungai Bango akibat longsor tersebut.

Terhadap kejadian longsor yang ada, Raymond mengingatkan tentang kondisi geografis dan geologi Kota Malang.

"Malang berada di lokasi perbukitan yang sebagian besar tanahnya terbentuk dari hasil pelapukan material erupsi di masa silam, sehingga tanah relatif mudah tererosi oleh air."

"Tanah mudah longsor pada saat jenuh dan dibebani oleh aktivitas manusia di atasnya," kata Raymond, Jumat (29/1/2021).

Hujan masih diperkirakan terjadi dengan intensitas yang tinggi. Hal itu juga diprediksi berdampak pada kerentanan longsor yang terjadi di sempadan empat sungai besar yang ada di Kota Malang, yakni Brantas, Bango, Amprong, dan Metro.

Raymond menjelaskan, Sungai Brantas dari daerah Oro-oro Dowo sampai Jodipan merupakan daerah rawan longsor.

Begitu juga beberapa area lain yang ada di tiga sungai lainnya.

"Yang telah terlanjur bermukim di sana, maka perlu meningkatkan kewaspadaan. Jika rumah sudah mulai ada retakan, maka itu mengindikasikan adanya pergerakan tanah dan rawan longsor," jelasnya.

Ia juga mengimbau warga yang akan membeli rumah maupun apartemen di daerah sempadan atau dekat sungai juga perlu hati-hati.

"Pastikan jaminan keamanan yang menjadi kewajiban developer atau pengelola apartemen itu tersedia," sarannya.

Dari catatan PJT I, debit terbesar Sungai Brantas di Kota Malang 1.580 m3/detik terjadi pada Desember 2007.

Debit yang terpantau pada saat terjadi hujan dengan ketebalan 70 mm dalam satu jam pada tanggal 18 Januari ternyata masih di kisaran 200 m3/detik.

Selain itu elevasi Kota Malang sekitar 380-400 mdpl, sedangkan dasar sungai berada di 360-370 mdpl.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved