Berita Batu Hari Ini

Sejarah Gereja Paroki Santo Simon Stock Batu, Gereja 82 Tahun yang Menyimpan Banyak Cerita (Part 1)

Gereja Santo Simon Stock yang terletak di Jalan Panglima Sudirman No 59 Batu, didirikan pada tahun 1939 dengan kapasitas sekitar 250 orang saja.

Penulis: Benni Indo | Editor: isy
benni indo/suryamalang.com
Gereja Paroki Santo Simon Stock Batu. 

Sebelum tahun 1935, keadaan Paroki Batu yang berjarak 18 Km dari Kota Malang terbilang sangat memprihatinkan.

Data sejarah mencatat banyak kenangan pahit.

Waktu itu, umat Katolik di Kota Batu dilayani secara tidak teratur.

SURYAMALANG.COM | BATU - Keadaan ini berlangsung hingga penggalan tahun 1935, ketika Romo Wouters diangkat menjadi Pastor pertama di kota dingin ini.

Ada peran Uskup Malang Mgr Aej Albers OCarm dalam sejarah perjalanan Gereja Paroki.

Peran Mgr Albers sebagai Uskup Malang yang pertama, sangat besar bagi keberadaan Paroki Batu.

Pada 23 November 1935, Mgr Albers memberkati biara dan sekolah milik Suster Sang Timur.

Romo Bernard Teguh Kusdarmanto OCarm dari Gereja Katolik Paroki Gembala Baik Batu mengemukakan, waktu itu, gedung khusus untuk umat beribadat belum ada.

Gedung sekolah pun belum terwujud, masih angan-angan.

“Jalan pintas pun ditempuh. Untuk sementara waktu Biara Suster dipakai untuk sekolah dan pada hari Minggu fungsinya berubah menjadi sebuah Gereja,” ujarnya.

Umat Katolik saat itu hanya berasal dari satu golongan saja, yakni orang Belanda.

Belum ada orang pribumi yang menggabungkan diri, kendati tak dapat disangkal bahwa banyak anak-anak non Katolik yang mulai ikut Misa Kudus, sehingga lama-kelamaan ada di antara anak-anak itu yang berkeinginan dibaptis.

“Mulanya, hanya empat orang suster Sang Timur tinggal di Biara Sr Cornelia, PIJ yang menjadi Kepala Sekolah SDK Sang Timur perdana, mulai merintis lapangan pendidikan membina 102 orang murid dari TK–SD kelas VII,” paparnya.

Dia terus-menerus diteter dengan lonjakan angka statistik anak-anak yang ingin mendaftar ke sekolah itu.

Murid-murid pertama Suster Cornelia, antara lain Cornelis Sudjito.

Pada 1939, didirikan gedung gereja dan sekolah.

Dalam catatan sejarah di Keuskupan Malang, bangunan gereja yang terletak di pinggir jalan raya Panglima Sudirman sekarang ini, diberkati oleh Mgr AEJ Albers OCarm pada tanggal 19 Maret 1939.

Bangunan gereja ini sampai sekarang masih bertahan dengan model arsitek yang kokoh.

Gereja yang baru diresmikan ini kemudian diberi nama pelindung Santo Simon Stock.

Nama Santo Simon Stock ini dipakai juga sebagai pelindung Paroki Batu sampai ada perubahan nama kemudian hari.

Nama pelindung paroki Santo Simon Stock tetap terpakai dalam Buku Permandian Paroki.

Orang yang pertama kali masuk dalam catatan Buku Permandian (Liber Baptizatorum I no 1) tertanggal 1 September 1935 dengan nama Raymundus Ronny yang lahir di Surabaya.

“Saat itu yang membaptis adalah Pastor El Wouters OCarm. Sebelum ada buku Permandian ini semua catatan ada di Paroki Hati Kudus Yesus–Kayutangan-Malang,” katanya.

Sedangkan penerimaan Sakramen Krisma yang diberikan oleh Mgr AEJ Albers OCarm pertama kali di Paroki Santo Simon Stock terjadi pada tanggal 13 Agustus 1939 di Gereja yang baru diberkati ini.

Kini, bangunan gereja masih berdiri kokoh namun sudah tidak lagi efektif untuk digunakan kegiatan keagamaan.

Gereja Santo Simon Stock yang terletak di Jalan Panglima Sudirman No 59 Batu, didirikan pada tahun 1939 dengan kapasitas sekitar 250 orang saja.

Di samping itu, gereja yang terletak di tepi jalan raya tersebut, karena perkembangan dan kemajuan, juga terasa bising dan ramai karena kesibukan lalu lintas, sehingga seringkali kekhusyukan umat dalam mengikuti Misa Kudus terganggu.

Mengingat hal di atas, maka pada tahun 1983, mulai timbul niat dalam hati umat dan Romo P J Vollering OCarm, selaku Pastor Paroki Batu, untuk memikirkan kemungkinan membangun sebuah gedung gereja baru.

Sebuah gereja yang lebih besar, luas, serta memadai sebagai tempat beribadah. 

Maka dibangunlah gereja baru.

Kini, kegiatan keagamaan dipindah ke Gereja Gembala Baik yang berada di belakangnya.

Hanya kegiatan tertentu saja diselenggarakan di Gereja St Simon Stock. (Bersambung)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved