Berita Jombang Hari Ini

Pimpinan Ponpes di Jombang Ketahuan Rudapaksa 6 Santriwati di Bawah Umur, Diduga Ada Belasan Korban

Kasus pencabulan hingga persetubuhan terhadap anak di bawah umur itu terungkap berdasarkan laporan dari dua orang tua korban.

Editor: Dyan Rekohadi
KOLASE - Shutterstock/Mita Stock Images - KOMPAS.COM/MOH. SYAFIÍ
Tersangka kasus dugaan pencabulan dan persetubuhan anak di bawah umur, digelandang petugas di Mapolres Jombang, Jawa Timur, Senin (15/2/2021) (KANAN). 

Penulis : Fatimatuz Zahroh , Editor : Dyan Rekohadi

SURYAMALANG.COM, JOMBANG - Pimpinan salah satu pondok pesantren atau Ponpes di Jombang, Jawa Timur ditangkap polisi karena terbukti melakukan pencabulan bahkan rudapaksa pada santriwati.

Jumlah santriwati yang jadi korban kebejatan pengasuh Ponpes itu kemungkinan mencapai belasan korban.

Sejauh ini polisi memastikan sudah ada 6 santri yang jadi korban rudapaksa pelaku Berinisial S itu.

Para santri yang jadi korban rata-rata merupakan anak yang masih di bawah umur.

Kapolres Jombang, AKBP Agung Setyo Nugroho, mengungkapkan kasus pencabulan hingga persetubuhan terhadap anak di bawah umur itu terungkap berdasarkan laporan dari dua orang tua korban.

Kedua orang tua korban tersebut, diketahui melaporkan S ke polisi karena telah mencabuli anaknya pada tanggal 8 dan 9 Februari 2021.

Dari hasil pemeriksaan penyidik, kata Agung, terungkap jika jumlah korban yang telah dicabuli hingga persetubuhan oleh pelaku terhadap anak di bawah umur tersebut sebanyak 6 santri.

"Korban sampai saat ini sejumlah 6 orang dari santri. Apabila ada perkembangan, nanti kita lakukan pemeriksaan dan pengembangan kembali," kata Agung di Mapolres Jombang, Senin (15/2/2021).

Agung mengungkapkan, perbuatan tersangka mencabuli enam santrinya sudah dilakukan selama dua tahun.

Hal itu dilakukan pelaku di lingkungan pondok pesantren yang dipimpinnya.

Menurut Agung, para korban antara lain santri yang berasal dari Kabupaten Jombang, serta daerah di Jawa Tengah.

"Korban persetubuhan pada saat itu (kejadian) rata-rata masih berusia 16-17 tahun," ucap Agung.

Agung menjelaskan, dalam melancarkan aksinya, tersangka S biasanya melakukan bujuk rayu untuk memuluskan usahanya mencabuli dan menyetubuhi para korbannya.

Perbuatan tersebut dilakukan saat dini hari hingga menjelang waktu subuh.

"Tersangka melakukan bujuk rayu, karena yang bersangkutan ini sebagai pimpinan pondok pesantren sehingga ada ketakutan dari santri," ujar Agung.

Atas perbuatannya, tersangka S dijerat dengan pasal 76e juncto pasal 82 ayat 1 Undang undang perlindungan anak.

Pelaku S diancam dengan hukuman penjara maksimal 15 tahun dan denda Rp 5 miliar.

*Artikel ini telah tayang sebelumnya di KompasTV

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved