Berita Malang Hari Ini
Daging Kerbau Lebih Sehat Dibanding Daging Sapi, Profesor UB Ungkap Strategi Kelahiran Kembar Kerbau
Prof Dr Ir Nurul Isnaini MP menyebut populasi kerbau juga sedikit dibanding sapi. Sehingga ia menggagas tentang kelahiran kembar pada kerbau.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Dyan Rekohadi
Untuk meningkatkan populasi dan produktivitas kerbau adalah dengan menghasilkan kelahiran kembar.
Pada kondisi normal, kerbau hanya bisa menghasilkan satu ekor anak pada setiap periode kebuntingan.
Akan tetapi, kelahiran kembar memungkinkan untuk terjadi secara alami namun dengan frekuensi yang sangat rendah.
Ada tiga metode strategi kelahiran kembar pada kerbau.
Pertama, dengan tahapan induksi superovulasi dan inseminasi buatan (IS-IB).
Kedua, dengan tahapan induksi superovulasi, inseminasi buatan, dan transfer embrio (IS-IB-TE).
Ketiga, dengan tahapan maturasi oosit in vitro, fertilisasi in vitro, dan transfer embrio (MOIV-FIV-TE).
"Namun juga ada risikonya," jelas Ketua Lab Reproduksi dan Pemuliaan Ternak di Fakultas Peternakan UB.
Yaitu kesulitan melahirkan, pertambahan bobot badan anak yang rendah, serta terjadinya sindrom freemartin pada anak betina.
Untuk mengatasi itu, maka perlu ada kandang khusus bagi kerbau yang akan melahirkan sehingga ada pengawasan khusus menjelang beranak.
Seperti memberikan pakan dengan densitas nutrien tinggi selama bunting dan laktasi.
Ke depannya, perempuan yang menjadi dosen sejak 1990 ini berharap adanya pengembangan teknologi deteksi birahi dan kebuntingan dini.
Saat ini, produksi daging sapi dan kerbau dalam negeri hanya dapat berkontribusi sebesar 50,6 persen terhadap pemenuhan ketersediaan nasional. Sisanya, 49,4 persen dipenuhi melalui impor.
Ternak kerbau sampai saat ini juga masih tradisional.
Populasi kerbau di Indonesia cenderung mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir.