Ramadan 2021
MUI Jatim : Puasa, Madrasah Pembentuk Perilaku Kedermawanan
Puasa dan soal kecintaan pada Allah Swt. adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam pribadi seorang mukmin.
Oleh: Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M.Fil.I
Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur
dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember
“Dan sebagian manusia itu ada yang membuat tandingan pada selain Allah. Mereka mencintai tandingan ini sebagaimana mencintai Allah. Orang-orang yang beriman itu lebih sangat dalam mencintai Allah…”. (QS. al-Baqarah: 165).
Apa kaitan ayat di atas dengan ibadah puasa?
Puasa dan soal kecintaan pada Allah Swt. adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam pribadi seorang mukmin.
Bagi seorang mukmin, puasa akan lebih mengokohkan kecintaannya pada Allah Swt, Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta.
Ayat ini juga menegaskan bahwa seorang mukmin tidak akan memilih ‘tandingan Allah’ (andadan) Swt.
Menurut Quraish Shihab (2017), tandingan Allah itu bisa berarti berhala, bintang, manusia maupun pemimpin-pemimpin mereka.
Dalam konteks manusia, ‘tandingan Allah’ itu bila didetailkan bisa berupa kekayaan, pangkat, jabatan, ataupun kedudukan yang menggiurkan.
Seorang mukmin akan fokus mencintai Allah tanpa batas tempat dan waktu. Salah satu bentuk kecintaan pada-Nya adalah dengan berderma pada sesama manusia, sebagaimana perintah Allah Swt.
Bulan Ramadlan, oleh karenanya, juga disebut sebagai bulan kedermawanan. Mengapa? Karena pada bulan ini, seorang muslim dianjurkan untuk berbanyak-banyak melakukan kedermawanan.
Misalnya, dengan memberikan makan pada saat berbuka puasa.
“Barang siapa memberi makanan buka puasa, maka ia akan mendapatkan pahala yang serupa tanpa megurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Pada bulan puasa juga dianjurkan banyak bersedekah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/prof-dr-m-noor-harisudin-mfili.jpg)