Ramadan 2021
MUI Jatim : Puasa, Madrasah Pembentuk Perilaku Kedermawanan
Puasa dan soal kecintaan pada Allah Swt. adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam pribadi seorang mukmin.
Jika pada bulan selain Ramadlan sedekah sudah dianjurkan, maka pada bulan Ramadlan sedekah lebih sangat dianjurkan lagi.
Berbeda dengan zakat, anjuran bersedekah sebagai bentuk kebajikan seseorang bersifat longgar tanpa ketentuan jumlah, bentuk maupun waktu tertentu.
Artinya, sedekah adalah ibadah yang ketentuannya bersifat longgar jika dibandingkan dengan zakat.
Termasuk bersedekah di bulan Ramadlan adalah memberi makan orang miskin.
Orang miskin adalah kelompok masyarakat yang tercecer dari mobilitas sosial sehingga perlu dibantu.
Islam memberi perhatian penuh pada orang miskin, sebagaimana firman Allah Swt.:
“Tangkap dan borgol mereka, kemudian lemparkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala dan belit dengan rantai tujuh puluh hasta ! Mengapa mereka dihukum dan disiksa dengan terang-terangan itu? Oleh karena mereka ingkar pada Allah yang Maha Besar dan tidak menyuruh memberi makan orang-orang miskin”. (QS. al-Haqqah: 30-34).
Perhatian Islam yang besar pada orang miskin mendorong Abu Darda untuk meminta pada istrinya: “Istriku, Allah mempunyai rantai besi yang selalu menyala membakar periuk neraka sejak ada sampai kiamat nanti.
Kita telah bebas dari ancaman separuh neraka itu karena iman kita. Sekarang bebaskanlah diri kita dari ancaman sepatuh lagi dengan mengajak orang-orang lain memberi makan orang-orang miskin”.
Dus, pada mengakhiri puasa Ramadlan, setiap muslim diwajibkan memberikan zakat fitrah. Nabi Muhammad Saw bersabda: Rasulullah Saw telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadlan bagi orang yang merdeka, hamba sahaya, laki-laki dan perempuan dari kaum muslimin dengan memberi satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum”. (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).
Tujuan zakat fitrah agar tidak ada yang kelaparan dan kekurangan pada hari raya Idul Fitri. “Ughnuhum ‘anit thawafi fi hadzal yaum. Berilah orang fakir miskin itu kecukupan makanan pada hari raya itu (Red: Idul Fitri) sehingga mereka tidak berkeliling mencari makanan”.
Sebagai madrasah tahunan, salah satu hal utama yang juga dituju puasa adalah perilaku kedermawanan.
Artinya, dalam puasa, seorang muslim dilatih untuk menjadi pribadi yang dermawan.
Setelah ia bekerja keras mencari nafkah, ia dididik untuk berlapang dada memberikan hasil jerih payahnya pada sesama. Tentu, bukan hal yang mudah bagi seseorang untuk memberikan hartanya pada sesama.
Perilaku kedermawan dibentuk oleh worldview bahwa seorang muslim tidak boleh mencintai harta kekayaannya melebihi cintanya pada Allah Swt.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/prof-dr-m-noor-harisudin-mfili.jpg)