Berita Malang Hari Ini
Dosen Teknik Sipil-Arsitektur ITN Malang Sumbang Pemikiran Rekonstruksi Rumah Tahan Gempa Di Malang
Tenaga ahli dari ITN Malang dikirimkan ke lokasi bencana gempa bumi di Desa Tumpakrejo, Gedangan, Kabupaten Malang.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Dyan Rekohadi
Penulis : Sylvianita Widyawati , Editor : Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, MALANG - Tenaga ahli dari ITN Malang dikirimkan ke lokasi bencana gempa bumi di Desa Tumpakrejo, Gedangan, Kabupaten Malang.
Mereka adalah para dosen dari Prodi Teknik Sipil dan Prodi Arsitektur.
Tujuannya memberi pemahaman rekonstruksi rumah tahan gempa serta mendesain ulang bangunan sekolah yang ambruk akibat gempa.
"Kami ada Tri Dharma Perguruan Tinggi. Salah satunya adalah pengabdian masyarakat. Saat ada musibah gempa lalu, maka kami melaksanakan tugas dalam pengabdian membangun desa,” ujar Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi beberapa waktu lalu. Tim ITN dan relawan memberikan dukungan pada warga Desa Tumpakrejo. Termasuk logistik.
Tim Teknik Sipil dan Arsitektur terjun ke Desa Tumpakrejo secara terpisah.
Diawali oleh Tim Teknik Sipil yang diwakili oleh dosen Teknik Sipil Dr Yosimson P Manaha ST MT.
Dia adalah ahli Bidang Rekayasa Struktur. Kemudian Sudiro ST MT, Kepala Program Studi Teknik Lingkungan yang memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai rekonstruksi rumah tahan gempa.
Beberapa hari kemudian giliran Tim Arsitektur menuju Desa Tumpakrejo untuk meninjau lokasi bangunan sekolah TK dan SD yang roboh sekaligus merencanakan desain ulang bangunan.
Menurut Simson, sapaan akrab Yosimson, Indonesia memang rawan bencana gempa karena dilewati tiga lempeng, lempeng eurasia, lempeng indo-australia, dan lempeng pasifik.
Gempa di Malang Selatan pada awal April 2021 lalu akibat pertemuan lempeng eurasia dan lempeng indo-australia.
Jika terjadi tabrakan pasti akan terjadi gempa.
"Pusat gempa di Malang ada di laut, sekitar 30-50 km masih agak aman. Kalau pusatnya di darat itu yang berbahaya,” kata Simson pada warga Tumpakrejo saat mengunjungi Posko Tumpakrejo Bangkit.
Ahli Bidang Rekayasa Struktur ini menjelaskan bahwa untuk wilayah rawan gempa bangunan rumah sebaiknya menggunakan struktur tahan gempa dan tangguh terhadap gempa.
Maka, saat merancang bangunan harus tangguh terhadap gempa. Pada saat gempa kecil 5 magnitudo rumah tersebut tidak rusak, naik 6 magnitudo dinding akan retak sedikit.
Jika di atas 7 magnitudo mungkin gedungnya rusak tetapi tidak akan roboh. Konsep ini yang akan ditawarkan oleh ITN Malang untuk diterapkan pada bangunan di Desa Tumpakrejo.