Breaking News:

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Fokus Lestarikan Elang Jawa Sejak Tahun 2012

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) fokus melestarikan Elang Jawa sejak tahun 2012.

Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
Editor: Zainuddin
wikipedia
Ilustrasi burung Elang Jawa. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) fokus melestarikan Elang Jawa sejak tahun 2012.

TNBTS memantau sejumlah titik yang kerap dijumpai Elang Jawa.

Karena keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan peralatan untuk pengamatan dan monitoring, pendataan Elang Jawa kurang begitu maksimal.

TNBTS mulai menyediakan peralatan mulai tahun 2017, dan melibatkan warga untuk pelestarian Elang Jawa.

"Memang waktu itu kami tertinggal dari taman nasional lain. Pemantauan Elang Jawa menjadi maksimal sejak kami mengajak komunitas dan an membeli peralatan, seperti kamera," ucap Toni Artaka, Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS kepada SURYAMALANG.COM, Senin (7/6/2021).

Berdasarkan catatan TNBTS sejak 2017-2021, total ada 27 Elang Jawa dari individu yang berbeda di TNBTS.

Jumlah tersebut menunjukkan adanya kenaikan populasi dari Elang Jawa.

Elang Jawa kerap ditemui di lereng barat dan lereng timur Gunung Semeru.

Namun, jumlah tersebut masih bisa bertambah, karena masih ada area yang belum termonitoring oleh petugas.

"Kabar ini harus kami informasikan. Karena selama ini kita hanya menyembunyikan. Kalau sampai hilang jadi kami yang salah. Tapi kalau saya kasih tahu ke masyarakat, jadi kita semua yang salah," ucapnya.

Toni mengatakan, dengan termonitornya Elang Jawa tersebut menjadi bukti, bahwa ekosistem hutan yang ada di TNBTS masih terjaga.

Hal ini berbanding terbalik dengan populasi burung Cucak Ijo, burung Manyar dan burung Gelatik di TNBTS.

Selama melakukan pengamatan di dalam hutan, pihaknya hanya sesekali saja dapat bertemu dengan ketiga jenis burung tersebut.

Hal tersebut menjadi catatan Toni selama mengamati ekosistem yang ada di hutan kawasan TNBTS.

"Seperti Cucak Ijo itu di hutan kita jarang sekali menemukannya. Tapi di pasar burung malah banyak. Karena masyarakat banyak yang berburu itu. Mereka lebih memilih cara yang instan," tandasnya.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved