Berita Batu Hari Ini

Angka Stunting Kota Batu Masih Tinggi

Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso mengatakan bahwa jumlah anak stunting di Kota Batu angkanya mencapai 11 ribu sekian.

Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Anak-anak Dusun Brau menari bersama dengan mengenakan kostum seperti sapi. Pemkot Batu menaruh perhatian serius terhadap proses tumbuh kembang anak sebagai upaya menurunkan angka stunting. 

SURYAMALANG.COM, BATU - Angka temuan anak stunting di Kota Batu masih terbilang tinggi. Per November 2021, jumlah balita yang tercatat di Dinas Kesehatan ada sebanyak 9766, sedangkan yang tercatat stunting sebanyak 1451. Data tersebut belum digabung dengan data pada tahun sebelumnya.

Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso mengatakan bahwa jumlah anak stunting di Kota Batu angkanya mencapai 11 ribu sekian. Sementara Kepala Dinas Kota Batu, Kartika Trisulandari menyebut, persentase anak stunting di Kota Batu sebanyak 14 persen per bulan timbang Agustus dari jumlah keseluruhan balita. Upaya Pemkot Batu untuk menurunkan angka stunting sebanyak 10 persen hingga 2022 pun harus diseriusi agar target terealisasi.

“Jadi, di Kota Batu ini, stunting cukup tinggi, 11 ribu sekian,” ujar Punjul setelah memberikan sambutan di peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang diselenggarakan Dinkes Batu di Klub Bunga, Selasa (30/11/2021).

Namun secara keseluruhan, angka prevalensi stunting turun dari tahun ke tahun. Pada 2019, angka prevalensi sebesar 25.4 persen, pada 2020 menjadi 14.83 persen dan pada 2021 menjadi 13.8 persen.

Salah satu penyebab tingginya stunting adalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai langkah-langkah pemenuhan gizi yang tepat. Punjul juga mengatakan, calon pengantin banyak yang anemia.

“Data dari WHO, hampir 33 persen calon pengantin anemia lalu setelah menikah makanannya kurang gizi sehingga anaknya stunting,” paparnya.

Gebrakan terbaru yang dilakukan untuk menghalau tingginya angka stunting adalah membuat Pos Gizi Penanganan Stunting (POZTING). Pos tersebut ada di setiap desa dan kelurahan. Warga tidak perlu jauh-jauh ke rumah sakit, hanya perlu datang ke pos untuk mendapatkan layanan.

“Kami memiliki data identitas anak stunting, kalau mereka sungkan datang ke RS, akan dilayani di pos stunting. Kalau tidak, kami yang datang ke rumahnya,” kata Punjul.

Kartika menyebutkan, stunting bisa disembuhkan jika intervensinya dilakukan sejak awal. Jika terlambat, kecil kemungkinan anak stunting bisa disembuhkan. Jika pertumbuhan anak tidak mengalami perubahan selama tiga bulan berturut-turut, maka harus diwaspadai.

“Stunting itu bisa diintervensi jika dideteksi awal. Kalau sudah terlanjur, kecil kemungkinan dia bisa diintervensi meskipun masih memungkinkan dengan olahraga atau lainnya. Tapi sangat kecil kemungkinannya jadi harus dideteksi sejak awal,” kata Kartika.

Makanan memiliki peran besar mengakibatkan anak stunting. Temuan dinas kesehatan di lapangan, banyak orangtua tidak mau sibuk dengan anaknya. Jika anak suka makan mie instan, lalu orangtua lebih sering memasakan mie instan.

“Alasannya supaya tidak ribet saja. Jadi kalau sudah makan mie instan, ya dibuatkan itu terus,” ujar Kartika.

Perilaku itu berdampak buruk pada pemenuhan gizi anak. Masa anak adalah masa yang penting untuk proses pertumbuhannya. Keseimbangan gizi menjadi hal mutlak yang perlu didapatkan anak agar tumbuh kembangnya baik.

“Makanan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Anak butuh asupan yang sesuai, tidak hanya dari satu jenis. Semua harus berimbang, termasuk pola asuh,” urainya.

Dalam POZTING, akan ada edukasi cara memberi makan, terutama pada anak yang sulit makan. Dinkes Batu akan membuat program selama tujuh hari untuk pemberian makanan yang sudah dihitung jumlah kalori dan hal lainnya.

“Yang dibutuhkan masing-masing balita. Teknisnya seperti community feeding centre. Jadi di RW atau desa yang ada anak stunting, kita akan buat program itu. Jadi ini benar-benar per anak untuk dapat memantau perkembangannya,” paparnya.

Kartika juga mengimbau agar menghindari pernikahan dini untuk memutus angka stunting. Kehamilan di usia terlalu muda tidak bagus untuk fisik ibu dan anak. Dinkes juga sudah menggerakan kader yang memberikan penyuluhan kepada calon pengantin di Kota Batu agar mereka paham mengenai kondisi fisik dan fungsi organ reproduksinya.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved