Selasa, 21 April 2026

Berita Batu Hari Ini

Kasus Kekerasan Fisik dan Pelecehan Terjadi di Pondok Modern Ternama di Kota Batu

Kepala Sekolah SMA Al Izzah, Adnan Yakub mengatakan kekerasan fisik tersebut memang terjadi di SMA Al Izzah. Kekerasan fisik itu seperti pemukulan.

Penulis: Benni Indo | Editor: rahadian bagus priambodo
benni indo/suryamalang.com
Suasana Pondok Pesantren Al Izzah Putra Kota Batu beberapa waktu lalu setelah adanya satu santri positif Covid-19 dan kini telah sembuh dari corona. 

SURYAMALANG.COM|BATU – Kasus kekerasan fisik dan pelecehan seksual terjadi di sebuah lembaga pendidikan pondok modern ternama di Kota Batu, Al Izzah. Kasus tersebut terjadi di kelas 10, SMA Al Izzah.

Kepala Sekolah SMA Al Izzah, Adnan Yakub mengatakan kekerasan fisik tersebut memang terjadi di SMA Al Izzah. Kekerasan fisik itu seperti pemukulan. Selain itu, juga ada catatan kasus perundungan.

Sedangkan pelecehan seksualnya, Adnan menyebut kasus tersebut adalah penyimpangan orientasi seksual oleh pelaku. Saat ditemui di Al Izzah putra, Senin (20/12/2021), Adnan menegaskan bahwa kasus pelecehan seksual tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan. Penyintas telah pindah sekolah, sedangkan pelaku masih berada di Al Izzah.

“Semuanya sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Kalau yang itu kasuistik. Nah, kami dibantu Pemprov Jatim, Pemkot Batu dan juga KPAI,” ujar Adnan, Senin (20/12/2021).

Adnan menyebut, pelaku telah diberi sanksi berupa pemanggilan orangtua dan pemberian surat peringatan. Surat peringatan itu berisi ancaman akan dikeluarkannya pelaku dari sekolah jika kembali melakukan pelanggaran serupa.

Pihak sekolah tidak banyak mengetahui kondisi penyintas sekarang karena sudah tidak berada di Al Izzah. Penyintas memutuskan keluar dari sekolah setelah kasusnya diketahui dan ditangani.

Peristiwa tersebut dikatakan Adnan terjadi pada 2020. Dilaporkan serta diselesaikan pada pertengah 2021. Pada 9 Juli, pihak keluarga penyintas dan pelaku bertemu. Kata Adnan, disitulah terjadi perdamaian sehingga pihak sekolah menganggap kasus telah selesai.

Adnan yang didampingi bagian kesiswaan, M Saifuddin juga membantah istilah pelecehan seksual yang terjadi. Ia menyebut bahwa yang terjadi pada kasus tersebut merupakan ujian terhadap kedua orangtua penyintas dan pelaku.

“Sebetulnya itu bukan kasus, tapi ujian terhadap kedua orangtua,” katanya.

Rencananya, akan ada asesmen terhadap para pelajar SMA pada Januari 2022. Sejauh ini, ditegaskan Adnan ada satu korban dan pelaku.

Terhadap pelaku, pihak sekolah masih memberikan kesempatan untuk tetap berada di lingkungan sekolah dengan pemantauan ketat. Bahkan dikatakan Adnan, pelaku justru menunjukan perubahan dan berhasil masuk 10 besar siswa berprestasi.

“Justru dia berprestasi dan masuk 10 besar. Siswa ini sudah lebih baik,” katanya.

Orangtua penyintas menceritakan, anaknya diketahui menjadi korban setelah terlihat adanya perubahan tingkah laku. Setelah dipantau dan ditanyakan, akhirnya penyintas menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

“Dulu sekolah di sana anak saya, sekarang tidak,” ujarnya.

Orangtua penyintas menyerahkan penyelesaian kasus ini kepada pihak-pihak yang berkompeten untuk menangani. Orangtua penyintas melaporkan kasus yang menimpa anaknya ke lembaga di bawah naungan Pemkot Batu.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved