Rabu, 8 April 2026

Ahli Sebut Infeksi Covid-19 Varian Omicron Bisa Bikin Dunia Kembali Normal

Virus corona varian Omicron ditemukan kali pertama pada November 2021. Baru dua bulan sejak ditemukan, varian Omicron ini menyebar ke beberapa negara.

Editor: rahadian bagus priambodo
SHUTTERSTOCK/Corona Borealis Studio via Kompas.com
Ilustrasi varian Omicron membawa banyak mutasi virus corona. Bukti awal menunjukkan bahwa varian Omicron dari virus corona kemungkinan memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi tetapi tidak membuat gejala terlalu parah. 

SURYAMALANG.COM - Virus corona varian Omicron ditemukan kali pertama pada November 2021. Baru dua bulan sejak ditemukan, varian Omicron ini menyebar ke beberapa negara.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus corona varian Omicron berasal dari Afrika Selatan.

Akibatnya ada kekhawatiran munculnya gelombang ke-3 pandemi virus corona dikarenakan varian ini.

Tyra Grove Krause, kepala ahli epidemiologi di Institut Serum Negara Denmark, berharap lonjakan varian terbaru saat ini dapat mencapai puncaknya pada akhir bulan ini.

Meski begitu, dia mengatakan risiko orang dirawat di rumah sakit akibat Omicron adalah setengah dibandingkan dengan varian Delta.

Ini memberi pihak berwenang di Denmark harapan bahwa pandemi bisa berakhir dalam beberapa bulan karena kekebalan meningkat, katanya.

Krause, menjawab pertanyaan tentang berapa lama Omicron akan memiliki pengaruh pada kehidupan di Denmark.

"Saya pikir kita akan memilikinya dalam dua bulan ke depan," ucap Krause seperti dilansir dari express.co.uk pada Selasa (4/1/2022).

"Dan kemudian saya berharap infeksi akan mulai mereda. Sehingga kita mendapatkan kehidupan normal kembali."

Hal senada disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesu.

Dalam pesan Tahun Baru 2022, Dr Tedros membuat catatan yang penuh harapan ketika krisis virus corona yang sudah memasuki tahun ketiga.

Dia mengatakan dia "yakin" ini akan menjadi tahun berakhirnya pandemi. Tetapi dia memperingatkan soal masalah vaksin.

Sebab menurutnya ada ketidaksetaraan jumlah vaksin di setiap negara.

Padahal vaksin Covid-19 dinilai sebagai senjata utama mengalahkan varian Omicron.

"Dan semakin lama ketidakadilan berlanjut, semakin tinggi risiko virus ini berkembang dengan cara yang tidak dapat kita cegah atau prediksi."

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved