Berita Malang Hari Ini
Profil Norayani Kolektor Tenun dan Ulos, Berawal Dari Suka Belanja dan Jalan-Jalan
Norayani dikenal sebagai kolektor tenun dan ulos serta perajin aksesoris serta desainer busana dari bahan yang dikoleksinya.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, MALANG - Norayani dikenal sebagai kolektor tenun dan ulos serta perajin aksesoris serta desainer busana dari bahan yang dikoleksinya.
"Misalkan membuat outer yang memadukan tenun dengan lurik sebagai produk turunan.Tenun kan berat. Maka saya kombinasikan dengan bahan lainnya," kata Nora pada suryamalang.com, Jumat (20/5/2022) lalu.
Untuk penjualan produknya, dipasarkan offline di butiknya di Perumahan Ijen Nirwana Kota Malang dan online ke media sosial serta marketplace. Juga ikut pameran produk.
Terjun ke bisnis ini dimulai pada 7-8 tahun lalu karena ia hobi belanja dan jalan-jalan. Wanita asal Pontianak ini merasa makin lama koleksinya makin banyak.
"Akhirnya saya mulai mulai berpikir agar bisa tetap bisa beli namun barang ada yang terjual. Perajin juga tetap berjalan. Itu mulai 4-5 thn lalu," katanya.
Kebanyakan koleksi tenunnya dari Sumba, NTT. Ada 500 an. Sedang tenun Flores ada 100 an. Tenun Bali ada 30 an.
Ada juga koleksi tenun Dayak, Tuban, songket Palembang dll. Paling mahal koleksi tenunnya dari Sumba Timur harganya Rp 25 juta. Ia ditawari tenun anak raja dari penenun Sumba.
"Sebenarnya tidak boleh dijual jika ada anak turunan raja. Tenun itu pernah ditawar beberapa puluh juta.
Tapi karena masih ada beberapa turunan memiliki anak kecil. Tapi terakhir tidak ada turunan anak," ceritanya.
Akhirnya ditawarkan karena kondisi butuh uang. Apalagi kondisi tidak ada turis. Maka ada tenun-tenun lama yang jadi simpnan dijual.
Sebab untuk memproduksi juga tidak ada uang untuk membeli benanh. Dikatakan, untuk tenun itu lama. Perlu waktu enal bulan sampai setahun.
Dalam proses pembuatan juga belum dapat uang. Ketika jadi juga belum tentu cepat dijual. Akhirnya, tenun-tenun lama dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk keunikan tenun anak raja dibentuk dari kerang yang dipotong, dianyam dan dijadikan motif. Menurutnya, aemakin lama usia tenun itu, maka makin antik dan berdampak pada harga.
"Tenun-tenun langka saya simpan. Saya masih sayang dan tak mudah didapatkan," jawab wanita ini.
Untuk tenun NTT, disebutnya, tiap daerah memiliki motif sendiri.
"NTT itu ada 21 kabupaten dan 1 kota. Motifnya beda-beda. Saya sampai hafal," ujarnya.
Karena suka tenun, ia juga belajar literasi agar paham.
Untuk perawatan tenunnya, di tempatnya juga diberi silica gel. Juga diangin-anginkan misalkan habis dipakai. Tidak disarankan dicuci di mesin cuci.
Handmade, Terbatas
Norayani juga membuat aksesoris kalung, bros dlla. Ia membuat handmade.
"Saya bikin liontin sesuai pesenan dan merangkai sesuai desain. Mungkin bikin liontin dua, tapi rangkaian kalung nya beda. Jadi limited beneran," jelas Nora.
Untuk rangkaian kalungnya dari tembaga, mutiara, perak, batu dll. Liontinnya dari perak, kadang dari batu.
"Untuk batu-batunya tak hanya dari Malang. Ada juga yang dari luar negeri. Kadang saya pas di Maroko, Turki, kadang dari Kalimantan saya beli. Begitu juga liontinya," katanya.
Kadang ke kalimantan.
"Setiap pergi ke mana, jika ada potensi rangkaian kalung, saya beli," ceritanya.
Untuk kalung dan bros bisa dibuat antara 10-20. Harga jual bros mulai Rp 50.000-Rp 100.000.
Sedang harga kalung mulai Rp 200 ribu ke atas karena tergantung bahannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/norayani-dan-koleksi-kain-tenunnya-ia-juga-membuat-busana-dan-aksesoris.jpg)