Berita Malang Hari Ini

Masyarakat Suka Cabai Segar, Picu Kenaikkan Harga saat Produksi Turun

Penjelasan Prof Dr Ir Risfaheri MSi, Plt Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Badan Pangan Nasional kepada wartawan saat ditemi di UB

Prof Dr Ir Risfaheri MSi, Plt Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Badan Pangan Nasional pada wartawan saat di Universitas Brawijaya (UB). 

SURYAMALANG.COM|MALANG- Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mengonsumsi cabai segar, padahal harganya fluktuatif. Sehinggga saat produksi turun karena perubahan cuaca, harga cabai meroket. 

Sehingga perlu edukasi juga di tingkat konsumen bahwa cabai bisa dikonsumsi dalam bentuk lain. 

Seperti bubuk cabai, pasta dan lain-lain. Menurutnya,  cabai adalah tananam musiman. Misalkan saat harga cabai murah, sebaiknya diolah lalu disimpan di lemari es sehingga tetap bisa mengonsumsi.

"Produksi cabai turun karena perubahan cuaca sehingga ada yang kena penyakit. Sedang kebutuhannya tetap tinggi," kata Prof Dr Ir Risfaheri MSi, Plt Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Badan Pangan Nasional kepada wartawan saat ditemi di Universitas Brawijaya (UB)

Kondisi pertanian cabai juga tidak merata.Ada yang mengalami puncak panen, ada yang sedikit. Sehingga kondisinya tidak merata sepanjang waktu. Saat ini harga jual cabai bisa memcapai Rp 100.000 per kg.

Konsumen juga mengurangi pembelian karena mahal. Di pasar, per 0,5 ons dijual Rp 8000. Selain itu, sebaran petani cabai juga tidak merata. 

Dikatakan, karena sering terjadi, memang perlu bantuan teknologi yang harus dilakukan pemerintah ke depannya agar saat produksi banyak bisa tersimpan untuk menstabilkan harga. Sehingga ada cadangan stok. Usia komoditas pangan cabai dan telur untuk disimpan juga terbatas waktunya yaitu 1-2 pekan. "Jadi ke depan akan memperkuat baik dari bulog atau BUMN lainya sehingga memiliki cadangan  pangan stok nasional," kata dia.


Tapi masalahnya, jika barangnya dikuasai pelaku usaha, maka pemerintah tidak bisa mengeluarkan cadangan. "Jangka panjangnya mungkin seperti Bulog membeli beras. Makanya harga beras stabil karena Bulog memiliki cadangan. Jika beras naik, maka tinggal dikeluarkan," kata dia.


Hal ini karena pemerintah bisa menyerap barang petani. Untuk mendorong ini sedang disiapkan disiapkan regulasinya untuk cadangan pangan. Dikatakan, memang paling fluktuasi harga pada cabai. 


Ia menyebutkan ada empat komoditas pangan yang masih diimpor oleh Indonesia. Seperti  kedelai, gula konsumsi dan bawang putih. Harga kedelai impor cenderung naik. Meski begitu perajin tempe tetap bertahan memakai kedelai impor karena sudah terbiasa saat harganya murah. Dulu bisa mencapai Rp 8000 an per kg. 


Memang diakui kedelai lokal belum memenuhi kebutuhan padahal Indonesia pernah swasembada kedelai. Dikatakan, kedaulatan pangan untuk kemandirian memenuhi kebutuhan sendiri perlu waktu. Soal beras sudah bisa dipenuhi sehingga tidak impor ke Vietnam. "Sehingga kalau misalkan Vietnam kurang beras, kita bisa membantu," jawabnya. Untuk menjaga ketersediaan pangan perlu penguatan logistik dan distribusi.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved