Breaking News:

Karya Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang Buat Alat Deteksi Kanker Rongga Mulut , Bantu Screening Dini

Mahasiswa UB buat inovasi alat deteksi dini kanker rongga mulut dengan metode fluorescence visualization terintegrasi IOT & sterilisator ozone plasma

SURYAMALANG.COM/ISTIMEWA
ILUSTRASI - Kampus utama Universitas Brawijaya Malang di Jalan Veteran. 

SURYAMALANG.COM , MALANG - Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) membuat inovasi alat deteksi dini kanker rongga mulut dengan metode fluorescence visualization terintegrasi IOT dilengkapi sterilisator ozone plasma bernama Telesphorus.

Kelima mahasiswa itu memulai proyek ini sejak Juni 2022.

Ketua tim mahasiswa, Imelia Arifatus Sani menyatakan jika ide berawal dari kasus kanker rongga mulut di Indonesia yang jumlahnya masih sangat tinggi.

Baca juga: Viral Puluhan Kucing Diracun di Kota Malang, Pengembang Perumahan Bereaksi dan Siap Lapor Polisi

"Selama ini, keterlambatan penanganan kanker rongga mulut disebabkan pada stadium awal gejala kanker tidak terlihat dan cenderung diabaikan. Jika screening kanker rongga mulut dilakukan sejak dini, maka dapat menurunkan angka mortalitas hingga 80-90 persen," tambah anggota tim, Oliresianela beberapa waktu lalu. 

Dengan adanya inovasi ini, diharapkan dapat memberikan prognosis yang baik bagi pasien yang terkonfirmasi kanker rongga mulut sejak awal.

“Alat ini dapat membantu screening dini kanker rongga mulut sehingga mampu meningkatkan kelangsungan hidup pasien,” ujar Rofi, anggota tim.

Pada alat deteksi dini ini ada dua sistem pada alat yang bekerja yakni sistem deteksi dan sistem sterilisasi.

Setelah alat digunakan, maka alat disterilisasi dengan menggunakan sistem sterilisasi sehingga tidak terjadi kontaminasi silang antarpasien.

Alat ini juga dilengkapi sistem cerdas yang mampu menyimpan data hasil screening yang bisa dikirimkan ke dokter gigi spesialis untuk  memperoleh pemeriksaan lebih lanjut dan diagnosis utama.

Selain itu, inovasi ini diharapkan mampu mengatasi jumlah dokter gigi spesialis yang terbatas di beberapa daerah di Indonesia.

Untuk diketahui di Gorontalo, NTT, dan Maluku Utara jumlah dokter gigi spesialis terbatas  . Bahkan di Papua Barat nihil.

“Dengan berbasis teledentistry, alat ini mampu menyimpan hasil screening melalui sistem cerdas, selanjutnya dapat dikirimkan ke dokter gigi spesialis,” tambah Jeremy.

Ananta menambahkan, alat ini memiliki beberapa keunggulan seperti mudah digunakan, konsumsi daya rendah, pemeriksaan lebih akurat dan desain portable.

Mahasiswa yang terlibat di inovasi ini adalah kolaborasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dengan Fakultas Teknik (FT).

Mereka dibimbing oleh dr Thareq Barasabha MT (dosen teknobiomedik FK).

Sedang anggota tim adalah Imelia Arifatus Sani (FKG), Oliresianela (FKG), Jeremy Kartika Soeryono (FKG), I Made Ananta Wiragunawan (FT), dan Mochammad Rofi Sanjaya (FT). Mereka mendapat pendanaan PKM bidang karsa cipta 2022.

Sebagai informasi, jumlah kasus kanker rongga mulut di Indonesia mencapai 14.197 kasus pada 2015 hingga 2020.

Sebanyak 3.087 orang meninggal dunia di Indonesia karena kasus kanker ini di tahun tersebut.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved