TRAGEDI AREMA VS PERSEBAYA
Tragedi Gate 14 Kanjuruhan, 5 Sahabat Meninggal dan Satu Orang Selamat Setelah Lompat dari Pagar
Tragedi gate 14 Kanjuruhan, 5 sahabat meninggal dan satu orang selamat setelah lompat dari pagar, Efendi Utomo pilu, marah dan sedih
Penulis: Sarah Elnyora | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, MALANG - Tragedi gate 14 Kanjuruhan membuat Efendi Utomo kehilangan lima orang sahabatnya dalam waktu singkat.
Peristiwa memilukan setelah laga Arema Vs Persebaya berakhir itu membuat Efendi Utomo merasakan sedih, marah dan sakit hati.
Dari enam orang sekawan itu, hanya Efendi Utomo yang selamat ketika terpisah dari lima orang teman-temannya.
Efendi Utomo menceritakan tragedi yang dialaminya di gate 14 saat doa bersama di Monumen Singa Tegar Stadion Kanjuruhan, Malang.
Acara doa bersama itu sudah digelar sejak Senin (3/10/2022) malam untuk mendoakan para korban meninggal dunia tragedi Kanjuruhan.
Doa bersama ini dilakukan rutin setiap malam sampai tujuh hari ke depan yang diikuti ratusan Aremania dan masyarakat umum dari berbagai wilayah Malang Raya.
Efendi Utomo jadi salah satu Aremania asal Dampit yang hadir dalam doa bersama ini.

Menempuh jarak 23,8 kilometer dengan berkendara selama satu jam lebih, Efendi Utomo datang untuk mendoakan para sahabat dan korban lainnya.
Pada saat insiden maut itu terjadi, Efendi Utomo mengaku kehilangan 5 orang teman dekatnya.
"Saya mendoakan teman-teman saya yang gugur di stadion. Saya mendoakan semua jasa-jasa dan kenangan teman-teman saya di sini yang sudah mendukung sepak bola,” ujarnya kepada Kompas.com grup Suryamalang Selasa, (4/10/2022).
Efendi Utomo berkisah kejadian tragedi Kanjuruhan begitu cepat.
Pada saat itu Efendi Utomo dan rekan-rekannya berada di tribune Gate 14, di seberang tribune VIP.
Efendi Utomo masih ingat bagaimana detik-detik kepanikan di tribune terjadi akibat tembakan gas air mata setelah Liga 1 2022 antara Arema FC vs Persebaya.
Ingatan saat-saat terakhir rekan-rekannya ketika berusaha menyelamatkan diri juga masih sangat membekas di memori Efendi Utomo.
Bahkan, saat suasana kalut, rekan-rekannya masih kompak mencari cara bersama untuk menyelamatkan diri.