Berita Malang Hari Ini

Tiket Kurang Laku, Panitia Festival Cakrawala yang Digelar Mahasiswa UM Tombok Ratusan Juta

Kasus hutang mencuat usai pelaksanaan kegiatan Festival Cakrawala atau Feskala yang digelar mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM)

|
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: rahadian bagus priambodo
dok.ist/twitter @feskalaum
Poster Festival Cakrawala yang digelar BEM Universitas Malang. Kasus hutang mencuat usai pelaksanaan kegiatan Festival Cakrawala atau Feskala. Kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) itu digelar pada 13-14 November 2022 lalu menghadirkan sejumlah grup band. 

SURYAMALANG.COM |MALANG - Kasus hutang mencuat usai pelaksanaan kegiatan Festival Cakrawala atau Feskala. Kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) itu digelar pada 13-14 November 2022 lalu menghadirkan sejumlah grup band.

Selain menyisakan hutang ke vendor, panitia juga memiliki hutang ke seorang mahasiswa sebesar Rp 123 juta.

Biaya untuk menggelar festival tersebut membengkak dan menyisakan hutang yang harus ditanggung panitia bersama-sama (hutang renteng).

Seorang anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UM, SA saat dikonfirmasi pada Kamis (9/2/2023) mengatakan ia menanggung beban hutang renteng Rp 1.250.000.

Padahal sebelum event dilaksanakan, setiap panitia sudah ditarik iuran sebesar Rp 100.000. 

Dikatakan, sejumlah panitia sudah menyarankan agar  ketua pelaksana acara mengganti bintang tamu yang tampil di Feskala.

"Tapi ia ngeyel," kata SA yang enggan disebutkan namanya ini. 

Untuk membayar hutang renteng itu berat. Sebab kebutuhan mahasiswa juga banyak dan masih bergantung pada orangtua.

Akhirnya seluruh panitia merasa dirugikan dari event tersebut. 

Total ada sekitar 3.000 tiket yang disediakan oleh panitia, namun hanya laku separonya.

Sedang beban operasional tetap harus ditutupi. Padahal dana dari sponsor juga belum dapat menutupi biaya operasional.

Akhirnya dilakukan mediasi dari kampus.  Hingga akhirnya, mencuat di medsos curhatan mahasiswa yang harus membayar hutang renteng ini sebesar Rp 205.750.000 .

100 volunteer harus menanggung Rp 750.000 per orang. Sedangkan anggota BEM UM yang  berjumlah 65 orang, per orang  harus membayar Rp 1.250.000.

Sedangkan pengurus atau panitia inti diebebani hutang masing-masing Rp 1,5 juta. Sementara ketua pelaksana kegiatan menanggung Rp 15 juta.

Kemudian untuk Menteri PSDM dan Ketua BEM UM, masing-masing harus membayar Rp 6 juta. 

Pada Kamis (9/2/2023), seluruh panitia kegiatan sudah harus melunasi sebesar 50 persen dari hutang yang ada.

Namun, SA mengaku belum mengetahui apakah hal itu sudah dapat terpenuhi atau belum.


Mediasi Kampus

Kasubdit Kesejahteraan, Kewirausahan, Karir dan Alumni U, Subur Hariono, menyatakan baru mengetahui ada hutang yang harus ditanggung mahasiswa setelah penyelenggaraan Feskala.

"Sebab setelah kegiatan itu senyap meski sudah terselenggara," kata Subur saat dikonfirmasi suryamalang.com, Kamis (9/2/2023). Ternyata kegiatan itu menyisakan masalah.

Akhirnya muncul wacana patungan membayar hutang itu pada pertemuan pertama, awal Januari 2023.

"Tanggalnya lupa. Hadir 60 orang. Dimana ada hutang dari kegiatan Feskala Rp 205 juta. Dua pekan kemudian ada rapat lagi. Tapi tak ada satu panitiapun yang datang. Malah kemudian ramai di medsos," jawabnya. 

Pada Rabu (8/2/2023) dilakukan pertemuan lagi. Termasuk datang orangtua ketupel (Diba) ke UM, panitia, vendor juga datang. "Pertemuan itu semua pihak saling menyampaikan  tentang hal itu," katanya.

Hasilnya ada titik temu. Dan ternyata hutang-hutang itu sudah ada yang dicicil. 

Termasuk seorang mahasiawa yang harus meminjamkan uang sebesar Rp 120 juta untuk melunasi hutang panitia.

Rencananya pada Kamis (9/3/2023) malam akan dilakukan pertemuan lagi dengan para pihak, termasuk orangtua ketua pelaksana, vendor dan panitia. 

Dia memperkirakan, hutang yang harus dibayar kemungkin sekitar Rp 50 juta. Sedangkan untuk membayar guest star atau artis yang tampil sudah terbayar semua.

Yang vendor belum terbayar adalah sound system dan dokumentasi. Menurutnya, ini bukan program kerja (proker) BEM UM. Ia mengibaratkan mahasiswa membuat event sehingga bertindak sebagai EO.

Dikatakan, sejak awal sudah menolak kegiatan itu karena khawatir tidak diminati. Apalagi berbiaya besar. Namun dari UM memberi bantuan Rp 75 juta.

Sebanyak Rp 14 juta dibayarkan untuk pajak hiburan dari Pemkot Malang karena ditagihkan ke UM. "Padahal itu bukan acara UM. Tapi memang diadakan mahasiswa UM," jawabnya.

Ia berharap pada pertemuan malam ini bisa terselesaikan.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved