Berita Malang Hari Ini
Warga Ingin Renovasi Alun-alun Tugu Harus Khas Kota Malang
Rencana pemasangan lampu baru di Alun-alun Tugu Kota Malang sebaiknya harus memiliki karakter kelokalan khas Kota Malang.
Penulis: Benni Indo | Editor: rahadian bagus priambodo
SURYAMALANG.COM, MALANG - Rencana pemasangan lampu baru di Alun-alun Tugu Kota Malang sebaiknya harus memiliki karakter kelokalan khas Kota Malang. Alun-alun Tugu selama ini sudah dikenal publik sebagai ikon Kota Malang. Maka sudah sepatutnya pernak-pernik yang menyertai di dalam Alun-alun Tugu juga menggambarkan kearifan lokal sejarah Kota Malang.
Pada sejumlah pemberitaan sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang berencana memasang model lampu kawasan Kayutangan di Alun-alun Tugu. Rencana ini direspon oleh Raymond Valiant Ruritan, warga yang memiliki perhatian terhadap sejarah Kota Malang. Ia berbagi perspektifnya tentang rencana pemasangan lampu itu.
Saat ditemui, Raymond menjelaskan bahwa model lampu yang kini berada di Kayutangan mirip dengan kawasan Malioboro di Yogyakarta. Hal itu tidak menunjukan karakteristik Kota Malang.
Dipaparkannya, Kota Malang memiliki sejarah pembangunan gedung dengan gaya arsitek nieuwe bouwen. Gaya ini berkembang antara tahun 1920 hingga 1940. Ciri-cirinya, bangunan menggunakan bentuk yang universal seperti kubus, tabung atau garis horizontal.
Salah satu bangunan peninggalan arsitek nieuwe bouwen di Kota Malang adalah bangunan lama yang kini menjadi kantor PLN. Selain bangunan itu, peninggalan arsitek nieuwe bouwen yang berkembang pesat di Kota Malang pada era itu ialah bentuk tiang lampu yang berada di sebuah jembatan Jl Kahuripan dan Jembatan Speelman di Jl Majapahit.
Bentuknya mengerucut ke atas. Di pucuk, ada sebuah bola lampu. Tidak ada lengkungan seperti yang terlihat di Kayutangan. Raymond berpendapat, ciri khas tiang lampu itu lebih cocok dipasang di kawasan Alun-alun Tugu Kota Malang.
"Jadi gaya arsiteknya sederhana sehingga mudah perawatannya. Revitalisasi boleh saja, tapi sebaiknya ada karakter Kota Malang," ujarnya.
Pendapatnya itu juga ia sampaikan ke akun Twitter yang dikelola Pemkot Malang, yakni @PemkotMalang. Dalam tulisannya, ia berpendapat ada estetika dalam interaksi publik dengan utilitas yang ada sehingga tiang lampu juga sebuah properti interaksi sosial dan politik.
"Tidak ada cerita Kota Malang itu bergaya Mataraman atau ikut klasik Victorian dalam kesejarahannya. Jadi konsep arsitek nieuwe bouwen dan art deco jadi salah satu properti estetika di sini," tulisnya dalam utas di akun Twitter @raymond_valiant.
Ia berharap, karakter khas Kota Malang tersebut bisa terwujud dalam revitalisasi Alun-alun Tugu. Kota Malang menurutnya tempat yang unik dan khas sebagai kota sehingga kekhasan tersebut perlu dijaga.
Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup telah mulai mengerjakan renovasi Alun-alun Tugu. Terlihat pembatas warna putih membentang di pagar yang melingkar Alun-alun Tugu.
Proyek renovas ini sempat tertunda dua bulan. Tertundanya proyek ini karena ada beberapa penyesuaan. Renovasi Alun-alun Tugu masuk dalam program Monitoring Center for Prevention Komisi Pemberantasan Korupsi.
KPK telah melakukan review. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Noer Rahman Wijaya menegaskan tidak ada temuan atau kesalahan dari hasil review KPK. Proses itulah yang mengakibatkan rencana pengerjaan renovasi mundur dua bulan.
Setelah dipastikan dikerjakan pada pertengahan Juni ini, Rahman menjelaskan waktu pengerjaan memakan wakt 120 hari. Pemenang tender telah ditunjuk pada awal Juni ini. Ada anggaran sebanyak Rp 5 miliar yang dialokasikan.
"Kontraknya per 9 Juni. Surat Perintah Mulai Kerja diberikan pada 12 Juni 2023," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/pekerja-mulai-mengerjakan-revitalisasi-alun-alun-tugu-kota-malang.jpg)