Berita Malang Hari Ini
Dahlan Iskan Sarankan Penemu Dapat Saham di Perusahaan Pengembang Produk
Prof Dr (HC) Dahlan Iskan hadir sebagai pemateri di acara talkshow inovasi bertema " Strategi Komersialisasi Hasil Inovadi Perguruan Tinggi"
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: rahadian bagus priambodo
SURYAMALANG.COM-MALANG-Prof Dr (HC) Dahlan Iskan hadir sebagai pemateri di acara talkshow inovasi bertema " Strategi Komersialisasi Hasil Inovasi Perguruan Tinggi" di lantai 9 Graha Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), Senin (10/7/2023).
Menurut Wakil Rektor III UM Dr Ahmad Munjin Nasih MAg, kehadiran Dahlan Iskan di UM di acara itu karena kebetulan juga sedang menguji di pascasarjana.
"Sesuai tema kita, banyak karya perguruan tinggi yang mandeg dan belum dilakukan hilirisasi. Kita berharap banyak dapat tips agar karya penelitian tidak berhenti di publikasi. Tapi bisa dirasakan masyarakat umum," kata dia.
Dijelaskan dia, dana riset dari negara harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Sehingga hasilnya bisa dikembangkan menjadi menjadi produk yang bermanfaat.
Menurut Dahlan Iskan, riset dan aplikasinya harus ada pendorong dan pasarnya.
"Dulu ada pasien hepatitis B tidak ada obat. Saya waktu Menteri BUMN meminta agar Kimia Farma memproduksinya. Jadi obatnya tidak harus impor. Begitu juga garam beryodium bisa diproduksi di dalam negeri karena Indonesia banyak menghasilkan garam," kata dia.
Di acara itu ia mengajak periset UM untuk naik panggung untuk menanyakan apa saja yang sudah dihasilkan. Salah satunya dosen Teknik Mesin UM yang menghasilkan temuannya antara lain berupa baterai charger untuk mobil listrik berdaya 2020 kw. "Riset saya didanai dikti dan hasilnya dites untuk mobil Wuling dan Hyundai," kata dosen ini. Mengutip data di ESDM, data pemilik mobil listrik ada 3703.
"Rata-rata pemilik mobil listrik ngecharge di rumah masing-masing. Sehingga urgensi charging di tempat umum lebih rendah. Tapi saya yakin akan ada keperluan itu terutama di sepanjang tol," kata Dahlan.
Maka diperlukan tempat pengisian yang cepat misalkan 30 menit. "Kalau punya saya masih 1 jam," jelas dosen itu. Secara teori, fast charging bisa. Tapi akan cepat merusak kendaraan listrik jika kerap dilakukan.
Dengan melihat kondisi saat ini, Dahlan Iskan berpendapat bahwa penemu yang punya hak paten bisa sebagai pemilik saham pada perusahaan yang mengembangkan produknya.
"Itu akan menjadi pendorong untuk sekuat tenaga berjuang pada penemuannya itu," kata dia. Ia memberi contoh di Tiongkok dimana penemu pembenihan memiliki saham 5 persen.
Sehingga penemu tidak sekedar bangga pada dirinya. Sehingga ada artinya karena ada insentif pribadi. Maka perlu dicarikan jalan keluar agar penemu bisa mendapatkan sahamnya.
"Maka UM perlu merumuskan insentif apa pada para penemu yang temuannya bisa dikomersialisasikan," tambahnya.
Meski dipandangnya di Indonesia agak sulit karena menyangkut keuangan negara.
"Artinya yang bersangkutan dosen, dimana sudah PNS, kemudian risetnya dilakukan bersama mahasiswa yang statusnya adalah mahasiswa PTN. Peralatan yang dipakai milik universitas dan dibiayai APBN. Sehingga kalau penemu itu mendapat saham, melanggar gak regulasinya?," jawabnya.
Tapi harus ada pemikiran bagaimana tidak melanggar peraturannya. Sejauh ini memang masih memberikan insetif pada lembaganya, bukan personal.
"Tapi komersialisasi jika dilakukan perguruan tinggi juga dia bukan sebagai lembaga bisnis. Maka perlu dicarikan jalan keluar," pungkasnya.
Polemik Beli LPG 3 Kg di Distributor, Pemilik Pangkalan di Kota Malang sampai Bingung |
![]() |
---|
UMKM Kota Malang Tak Peduli Harga Mahal, Yang Penting LPG 3 Kg Selalu Ada |
![]() |
---|
Polemik Beli LPG 3 Kg di Pangkalan, Warga Kota Malang: Kebijakan Jangan Bikin Repot |
![]() |
---|
Bisnis Akademi Wirausaha Mahasiswa Merdeka UB Malang, Maggot Jadi Pakan Kucing dan Busana Big Size |
![]() |
---|
Puluhan Napi di Lapas Malang Lolos Kompetensi, Diwisuda Jadi Guru Al-Quran |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.