Berita Malang Hari Ini
Melihat Pabrik Kerupuk Rambak Sapi di Talangagung, Malang, Pemasok Pasar Yogya dan Jakarta
Awalnya ikut orang, terus belajar tahu caranya buat sendiri. Akhirnya saya buka sendiri di rumah, sekarang berjalan satu tahun.
Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Yuli A
"Sekali kirim bisa 5 kuintal, tergantung permintaan. Kalau pendapatan sekali mengirim bisa mencapai Rp40 juta, itu untuk kerupuk kulit sapi jantan," katanya.
Pendapatan yang diterima oleh Asep tersebut merupakan pendapatan kotor. Di mana, ia harus mengeluarkan uang sebanyak Rp2 juta hingga Rp5 juta untuk membeli kulit mentah. Kulit tersebut ia dapatkan dari jagal sapi.
Namun, Asep kini mengalami kesulitan untuk mendapatkan kulit sapi mentah di tengah membludaknya permintaan pasar. Karena, ia harus bersaing dengan pengerajin kulit.
"Pas suroan ini permintaan banyak, taoi bahannya agak sulit. Soalnya banyak pesain dari pengerajin kulit," jelasnya.
Akibat sulitnya mendapatkan bahan baku, sehingga Asep harus mencari solusi untuk bisa terus memproduksi kerupuk. Yakni, ia akan mencari kulit sapi hingga ke luar Kabupaten Malang, di antaranya di wilayah Blitar.
Selain mencari bahan baku ke luar daerah, pria berusia 36 tahun itu juga akan bermain di harga.
"Kalau beli pas rebutan gini, harus pintar-pintarnya main harga. Biar dapat kulitnya, soalnya permintaan lagi tinggi-tingginya," seru Asep.
Meskipun kesulitan mendapatkan kulit mentah, Asep masih tetap terus berjuang untuk memenuhi permintaan kerupuk rambak mentah kepada pembeli.(isn)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/proses-produksi-kerupuk-rambak-milik-Asep-di-Desa-Talangagung-Kecamatan-Kepanjen.jpg)