Minggu, 12 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Dokter FK Universitas Muhammadiyah Malang Beri Tips P3K dengan Pedoman PATUT

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dr Muhammad Gagas Sasongko memberikan tips saat menemukan korban kecelakaan

UMM
Ilustrasi korban kecelakaan 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Tindakan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) secara benar akan meminimalisir cacat atau penderitaan. Bahkan menyelamatkan korban dari kematian.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dr Muhammad Gagas Sasongko memberikan tips saat menemukan korban kecelakaan. Ia menyatakan, masyarakat diharuskan untuk tidak panik.

"Tindakan pertolongan yang dapat dilakukan pertama kali adalah memastikan adanya respons."

"Hal ini dapat kita lakukan dengan menepuk atau menggoncang korban dengan hati-hati pada bahunya dan bertanya dengan keras," papar Gagas beberapa waktu lalu. Ia memberikan pedoman PATUT bisa menjadi pijakan pertama.

PATUT adalah dari P: Penolong mengamankan diri sendiri lebih dahulu sebelum bertindak. A: Amankan korban dari gangguan di tempat kejadian, sehingga bebas dari bahaya.

Lalu T: Tandai tempat kejadian sehingga orang lain tahu bahwa di tempat itu ada kecelakaan. U: Usahakan menghubungi ambulans, dokter, rumah sakit atau yang berwajib seperti polisi atau keamanan setempat dan T: Tindakan pertolongan terhadap korban dalam urutan yang paling tepat.

Kedua, penolong pada saat yang bersamaan melihat apakah korban tidak bernapas atau bernapas tidak normal (gasping).

Apabila korban tidak merespons dan tidak bernapas atau bernapas tidak normal, maka harus dianggap bahwa korban mengalami henti jantung. Ketiga, lakukanlah pijat jantung (RJP).

Penyelamat awam tidak dapat menilai dengan akurat apakah korban memiliki denyut nadi.

Dikatakannya, tindakan RJP dapat dihentikan apabila korban kembali sadar, dinyatakan meninggal atau membahayakan penolong.

"Keempat, apabila terdapat pendarahan pada tubuh korban, maka penolong dapat menekan area yang luka dengan menggunakan kain atau tisu yang bersih untuk menghentikan perdarahan,” ujar dia.

Dikatakannya, apabila korban masih menggunakan helm, maka penolong dapat mengeluarkan helm korban dengan beberapa cara.

"Apabila helm berbentuk telur (egg shaped) maka tekniknya, menarik helm ke atas penolong dan ke samping untuk menghindari tersangkut di telinga," kata dia.

Lalu apabila helm tersebut full face, maka tekniknya diawali dengan melepas kaca.

Kemudian mengangkat sisi bawah miring ke depan, diikuti penarikan dengan arah berlawanan dari gerakan pertama.

Yang perlu diperhatikan adalah menjaga ketenangan dan mengurangi gerak bagi semua penolong. Selain itu pertahankan stabilitas kepala dalam rangka menjaga jalan nafas dan inline dari posisi. Jika memiliki penyangga leher maka sebaliknya digunakan.

 

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved