Breaking News
Sabtu, 11 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Puluhan Ribu Warga Kabupaten Malang Terduga Tuberkulosis

Hingga November 2023, sebanyak 28.073 orang terduga TBC berhasil ditemukan di Kabupaten Malang.

Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: rahadian bagus priambodo
Lu'lu'ul Isnainiyah
Konferensi Pers pernyataan bersama kolaborasi penanggulangan tuberkulosis di Hotel Grand Kanjuruhan, Kepanjen, Senin (4/12/2023) 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Hingga November 2023, sebanyak 28.073 orang terduga tuberkulosis (TBC) berhasil ditemukan di Kabupaten Malang. Sedangkan tingkat pengobatan TBC masih rendah.


Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Tri Awignami Astoeti mengatakan, Kabupaten Malang menjadi prioritas penanggulangan TBC di Jawa Timur (Jatim).


Oleh karena itu, pada 2023 Kabupaten Malang memiliki target Standar Pelayanan Minimal (SPM) dalam penemuan terduga TBC.


"Target SPM terduga TBC di Kabupaten Malang sebanyak 19.040 orang. Sedangkan hingga November 2023 kami telah menemukan 28.073 orang terduga TBC," ujar Awig.


Sehingga, dari penemuan tersebut, Kabupaten Malang berhasil melampaui target yang telah ditetapkan. Yakni saat ini terhitung sebanyak 140,88 persen.


Dari 28.073 terduga, sebanyak 3.108 orang terkonfirmasi kasus TBC setelah dilakukan pemeriksaan dahak.


"Akan tetapi, jumlah tersebut masih dikatakan kurang dari target etimasi, yakni sebanyak 3.918 kasus," jelasnya.


Di sisi lain, tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Kabupaten Malang masih belum mencapai target nasional.


Nasional mentargetkan pengobatan TBC di angka 90 persen. Sedangkan 83,82 persen pada 2022, sementara hingga 2023 masih mencapai 32,31 persen.


"Kurangnya jumlah temuan kasus yang diobati ini karena dipengaruhi beberapa faktor, sehingga kami harus berkolaborasi dengan beberapa pihak," sebutnya.


Awig menyebutkan, faktor yang mempengaruhi di antaranya, masih ada penderita TBC yang belum mengakses layanan untuk berobat dan masih banyak terduga yang sudah mengakses layanan belum mampu mengeluarkan dahak untuk pemeriksaan.


Kedua, masih kurangnya pencatatan dan pelaporan yang tercatat Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) yang menyebabkan under-reporting akibat jejaring internal fasilitas kesehatan yang belum optimal.


Untuk mengatasi kendala tersebut, Dinkes telah memiliki beberapa strategi. Antara lain, melakukan surveilans penemuan kasus baik secara aktif masif maupun pasif intens.


"Penemuan kasus secara aktif masif dpaat dilakukan melalui kegiatan penemuan pasien TBC di luar faskes, investigasi kontak pada orang dengan kontak erat pasien TBC, penemuan kasus di tempat khusus (pesantren, tempat kerja, lapas) dan populasi berisiko, skrining massal," paparnya.


Sementara penemuan kasus pasif intensif dapat dilakukan melalui penguatan jejaring layanan antar faskes satu dengan lainnya. Kemudian kolaborasi layanan antar faskes, serta penjaringan kasus melalui skrining batuk oleh petugas.


Secara terpisah, Herdiyana Fatmawati, Ketua Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (YABHSA) Kabupaten Malang menambahkan, turut mendorong layanan pemerintah dan swasta untuk memenuhi SPM TBC.


"Kami berkomitmen untuk turut membantu menanggulangi TBC di Kabupaten Malang, dan ini sudah kita lakukan berkolaborasi dengan Dinkes," imbuhnya.(isn)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved