Kamis, 23 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Megengan dan Nyadran di Kampung Budaya Polowijen Malang Jelang Ramadhan

Tahun ini, acara megengan KBP digelar bersama-sama umbul donga atau baca doa serta nyekar ke makam Empu Topeng Ki Tjandro Suwono (Mbah Reni) di KBP

SURYAMALANG.COM/ISTIMEWA
Megengan dan Nyadran tradisi yang masih kuat dan lestari di Kampung Budaya Polowijen (KBP) Menjelang Ramadhan, Sabtu (9/3/2024).  

SURYAMALANG.COM , MALANG - Megengan dan Nyadran menjadi tradisi yang masih kuat dan lestari di Kampung Budaya Polowijen (KBP) menjelang Ramadhan.

Tahun ini, acara megengan digelar bersama-sama umbul donga atau baca doa serta nyekar ke makam Empu Topeng Ki Tjandro Suwono (Mbah Reni) di KBP, serta arak-arakan topeng dan penampilan tari tarian setelah nyadran, Sabtu (9/3/2024). 

Hadir di kegiatan itu Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang, Kampung Gadang Wiswakala dan Perempuan Bersanggul Nusantara.

Juga Komunitas Mocopat Kota Batu, SMP Wahid Hasyim Singosari, perwakilan Kampung Tematik Kota Malang, murid dan wali murid KBP serta Warga KBP sendiri.

Lebih dari 100 orang mengikuti umbul dongo yang dipimpin Ki Demang, Penggagas Kampung Budaya Polowijen.  

"Yang unik di Megengan di KBP, masing masing warga membawa makanan, apem dan pisang dikumpulkan jadi satu. Setelah itu tukar menu makanan yang bisa di bawa pulang," jelas Ki Demang, Minggu (10/3/2024).

Rakai Hino Jaleswangi , Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang memberikan penjelasan tentang Megengan.

Ia menyebut Megengan diambil dari bahasa Jawa yakni mèkèk, yang artinya menahan/ngempet .

Sedangkan kata ‘puasa’ tersebut berasal dari penggabungan dua suku kata ‘upa’ dan ‘vasa’".

Ini merujuk pada perilaku atau tradisi puasa masyarakat nusantara terdahulu yang mayoritas menganut Hindu-Budha.

"Upa’ bermakna dekat dan ‘vasa’ berarti Yang Maha Agung. Sehingga ‘upavasa’ memiliki arti mendekatkan diri ke Yang Maha Kuasa," papar alumni Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Jadi, tradisi megengan jelang puasa adalah tradisi lama masyarakat Jawa yang hingga kini masih ada dan lestari.

Rakai Hino juga menjelaskan bahwa Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta “Sraddha” yang artinya keyakinan.

Tradisi Nyadran merupakan suatu budaya mendoakan leluhur yang sudah meninggal dan seiring berjalannya waktu mengalami proses perkembangan budaya sehingga menjadi adat dan tradisi yang memuat berbagai macam seni budaya. 


Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved