Kisah Cinta Presiden Soekarno dan Hartini yang Jarang Disorot, Pernikahan Ditentang Fatmawati

Kisah cinta Presiden Soekarno dan Hartini yang selama ini jarang disorot. Pernikahan sempat ditentang farmawati dan organisasi perempuan Indonesia.

Penulis: Frida Anjani | Editor: Frida Anjani
Tribunnews
Kisah Cinta Presiden Soekarno dan Hartini yang Jarang Disorot 

Diceritakan, saat itu Hartini meminta Fatmawati untuk tetap menjadi ibu negara, sedangkan ia tetap menjadi istri kedua.

Akhirnya Bung Karno menikah dengan Hartini di Istana Cipanas pada 7 Juli 1953 dan tinggal cukup lama di sana. 

Sekitar tahun 1964, Hartini pindah ke salah satu paviliun di Istana Bogor.

Pernikahan Hartini dan Bung Karno sempat mendapat kecaman dari organisasi perempuan Indonesia.

Setelah menikahi Hartini, secara berturut-turut Soekarno juga menikahi Ratna Sari Dewi (1961), Haryati (Mei 1963), dan Yurike Sanger (1964).

Namun, Hartinii tetap mempertahankan pernikahannya hingga akhir usia Bung Karno.

Bahkan, ia juga menjadi saksi lahirnya Supersemar pada tahun 1966. 

Setelah peristiwa Supersemar, jalan hidup dan karier politik Bung Karno berakhir.

Soekarno dan Hartini di Slovenia.
Soekarno dan Hartini di Slovenia. (Tribunnews)

Baca juga: Fakta Paundrakarna Cucu Soekarno yang Jadi Aktor FTV, Seorang Pangeran Anak Raja Mangkunegara IX

Setelah Soeharto dilantik menjadi presiden pada Maret 1967, Bung Karno menetap di paviliun Istana Bogor ditemani Hartini.

Hingga pada akhirnya, Bung Karno pindah ke sebuah rumah di daerah Batu Tulis, Bogor bersama Hartini.

Kondisi kesehatan Bung Karno memburuk

Atas permintaan Bung Karno, Hartini mengirim surat kepada Presiden Soeharto dan memohon suaminya diizinkan pindah ke Jakarta agar dapat perawatan yang layak.

Saat itu, ginjal kiri Bung Karno sudah tak berfungsi sama sekali, dan fungsi ginjal kanan tinggal 25 persen.

Kisah Cinta Presiden Soekarno dan Hartini yang Jarang Disorot
Kisah Cinta Presiden Soekarno dan Hartini yang Jarang Disorot (Tribunnews)

Baca juga: Pesona Frederik Kiran Cucu Presiden Soekarno dan Ratna Sari Dewi, Berdarah Jepang-Belanda-Indonesia

Berbulan-bulan surat tersebut tak ada tanggapan. Hartini kembali mengirim surat kedua dan meminta Rachmawati untuk mengantarkan surat itu langsung ke Presiden Soeharto di Cendana.

Pada Februari 1969, Bung Karno dipindahkan ke Wisma Yaso yang kini jadi Museum Satria Mandala.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved