Berita Malang Hari Ini

Maba Universitas Brawijaya Malang Diberi Pesan Agar Pandai Memilih Circle

Maba Universitas Brawijaya (UB) Malang mendapatkan materi terkait pencegahan terorisme dari Satgaswil Densus 88 Jawa Timur, Dr Dani Teguh Wibowo

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Maba Universitas Brawijaya (UB) Malang mendapatkan materi terkait pencegahan terorisme dari Satgaswil Densus 88 Jawa Timur, Dr Dani Teguh Wibowo. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Mahasiswa baru (Maba) Universitas Brawijaya (UB) Malang mendapatkan materi terkait pencegahan terorisme dari Satgaswil Densus 88 Jawa Timur, Dr Dani Teguh Wibowo, dalam Pengenalan Kegiatan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) hari ketiga, Rabu (14/8/2024).

Menurut dia, semua stakeholder termasuk perguruan tinggi harus melakukan upaya pencegahan pada terorisme.

"Seperti kegiatan seperti ini adalah pencegahan. Ini minimal 'ngelengno' (mengingatkan) tentang terorisme," kata anggota Polri ini.

Karena itu ia menyarankan mahasiswa hati-hati memilih circle atau lingkarannya. Tentang transforkasi terorisme, saat ini yang paling bahaya adalah lewat media sosial atau internet.

"Kalau dulu kan face to face. Apalagi sekarang semua memiliki smart phone. Risiko terpapar semakin besar," kata dia.

Ia menganologikan ketika teroris  menyebarkan lewat medsos, ibaratnya seperti menyebarkan bibit jagung.

Tidak tahu jatuhnya kemana. Kalau jatuh di tanah yang yang subur, maka tumbuh subur. Sasaran terorisme adalah generasi muda dan wanita. Anak muda disasar karena masih mencari jati diri.

Maka semua stake holder harus bekerjasama mencegahnya. Jika mencegah di kampus lewat pendidikan dan penerapan pancasila. Maka perlu kerjasama tiga pihak yaitu mahasiswa, orangtua dan lembaga pendidikan.

Mahasiswa juga diingatkan agar sering komunikasi dengan orangtua. Ia mencontohkan ada anak muda terpapar terorisme. Maka sangat penting melakukan HP dengan bijak.

Ketika mendapat informasi lewat HP, maka carilah informasi yang komprehensif. Beberapa pertanyaan disampaikan oleh maba pada Dani seperti bagaimana melakukan deteksi dini agar tidak terkena "pencucian otak". Serta ciri-ciri orang terdekat (keluarga) ketika terpapar radikalisme dan bagaimana langkah menyelamatkannya.

Dani menyebutkan, ada upaya melakukan deradikalisasi bagi orang-orang terpapar.  Pendekatan bisa lewat kultur seperti bahasa. Misalkan ia ada di Malang dan dari daerah X, maka bisa mencoba mendekati dengan bahasa asalnya. Sehingga ada kedekatan.

Bisa juga didekatu dengan sisi lainnya seperti ekonomi dan ideologi. "Jika sudah terjadi, maka seluruh stake holder harus bekerjasama. Sepertu melakukan penegakan hukum dan rehabilitasi," tandasnya.

Aksi terorisme, lanjutnya, jangan dilihat dari korban yang meninggal saja. Tapi lebih luas lagi yaitu perpecahan negara. Pelaku teror juga bisa dari semua agama. Semua punya potensi dan tidak ke agama tertentu. Akar terorisme adalah intoleransi.

Jika mengacu pada motif, maka ada hal yang membuat ia bergerak/tujuan yang hendak diraih. Jika sudah punya motif, maka akan menyerang pada orang yang punya motif berbeda. Maka platform terorisme adalah intoleransi.

 

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved