Kamis, 23 April 2026

Info Malang

Kampus STIBA Malang Meredup, Usaha Warga Sawojajar Ikut Surut

Usaha persewaan kamar kos, warung dan laundry di sekitar Kampus STIBA Malang kehilangan pelanggan seiring menurunnya jumlah mahasiswa.

Editor: iksan fauzi
SURYAMALANG.COM/BENNI INDO
KAMPUS STIBA MALANG : Suasana Kampus STIBA Malang di kawasan Sawojajar Kota Malang yang kian sulit mendapatkan mahasiswa. Kondisi itu turut menurunkan pendapatan warga sekitar kampus. 

SURYAMALANG.COM | MALANG – Kos-kosan, warung, dan laundry di sekitar Kampus STIBA Malang kehilangan pelanggan seiring menurunnya jumlah mahasiswa.

Keberadaan Kampus STIBA Malang sempat menjadi sumber penghidupan warga di sekitarnya.

Rumah-rumah disulap jadi kos-kosan, warung makan dan laundry bermunculan demi melayani mahasiswa.

Tapi sejak jumlah mahasiswa menurun drastis, suasana ramai itu kian menghilang, meninggalkan kamar kos kosong dan usaha warga yang mati suri.

Seorang warga yang tinggal di sekitar Kampus STIBA Malang bernama Ashar Sofianto, menjadi saksi pasang surutnya usaha warga Sawojajar sejak tahun 1989.

Ashar mengingat di gang tempatnya tinggal, ada tiga rumah yang menjadikan lantai dua mereka sebagai kos-kosan.

Setiap tahun, mahasiswa baru datang, koper-koper memenuhi lorong, dan warga ikut merasakan rezeki dari hiruk pikuk itu. Namun, pemandangan itu kini hilang.

“Di gang ini, ada tiga rumah yang dijadikan kos-kosan di lantai duanya. Tapi sekarang sudah kosong,” ujar Ashar Sofianto, Senin (28/7/2025).

Perubahan itu terjadi seiring meredupnya aktivitas Kampus STIBA Malang.

Kawasan sekitar kampus yang dulu ramai usaha mahasiswa kini terlihat lengang.

Jumlah mahasiswa yang merosot drastis ini membuat denyut ekonomi warga ikut terhenti.

Kos-kosan kehilangan penyewa, warung kehilangan pelanggan, dan sebagian warga kembali hanya mengandalkan penghasilan utama mereka.

Pada masa jayanya, kampus yang dikenal dengan program studi bahasa ini sempat menarik mahasiswa dari berbagai daerah.

Menurut warga sekitar, era 90-an adalah masa paling ramai STIBA.

“Teman saya juga ada yang lulusan STIBA ini, sudah lama sekali, sekarang dia sudah pensiun kerja,” ujar Ashar, pria paruh baya yang menetap lama di Sawojajar.

Tahun 90-an menjadi masa jaya kampus yang fokus pada bahasa asing.

STIBA memiliki berbagai jurusan, mulai dari Sastra Inggris, Jepang, Mandarin, Arab, Jerman, sampai program diploma.

Namun, kini tinggal jurusan S1 Sastra Inggris.

“Sekarang sudah jadi ITSK, ya mas? Plang STIBA sudah tidak ada,” tanya Ashar kepada wartawan, Senin (28/7/2025).

Pertanyaan itu menjadi saksi hilangnya pamor kampus swasta yang pernah menjadi jujugan para anak muda untuk menempuh pendidikan bahasa asing.

Kenyataannya, STIBA masih berdiri hingga saat ini, meski kini berada di bawah naungan perusahaan Soepraoen.

Kampus itu bergabung dengan ITSK, dan jurusan Sastra Inggris STIBA menempati lantai dua gedung tersebut.

Pria paruh baya yang menjadi narasumber utama liputan ini menyaksikan sendiri bagaimana perubahan kampus ikut mengubah nasib warganya.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pemilik kos-kosan.

Warga yang dulu membuka warung makan dan laundry di sekitar kampus juga ikut merasakan sepinya penghasilan.

Warung-warung yang dulu laris karena menu sarapan dan makan malam mahasiswa, kini harus menutup lebih cepat atau bahkan berhenti beroperasi karena tak ada lagi pembeli.

Suara mesin cuci dari usaha laundry tak lagi terdengar.

Pada masanya, setiap sore selalu ada mahasiswa yang mampir membeli gorengan atau memesan nasi bungkus.

Sekarang, pembeli paling hanya datang dari warga setempat yang sesekali lewat.

Meski begitu, sebagian warga masih berharap ada perubahan.

Yohanes Etika Adi, salah seorang warga yang berkunjung ke rumah Ashar Sofianto turut menyampaikan pandangannya.

“Saya harap sih, kedepannya kampus ini bisa ramai lagi, mungkin bentuk promosinya bisa dikembangkan agar bisa menarik minat,” ujar Yohanes, Senin (28/7/2025).

“Mengingat di zaman ini kemampuan berbahasa asing dibutuhkan di banyak perusahaan,” tambah pria yang akrab disapa Yo, Senin (28/7/2025).

Bagi warga di sekitar STIBA Malang, ramainya kampus bukan sekadar soal banyaknya mahasiswa yang lalu-lalang, tapi juga napas bagi perekonomian mereka. 

Warga percaya, jika kampus kembali aktif menerima mahasiswa, roda ekonomi kecil di kawasan ini pun bisa kembali berputar. (MG2/Bilqis Nafisyah Atjim Roa)

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved