Rabu, 22 April 2026

Merawat Buah Khas Malang Nyaris Punah

Pengaruh Anomali Iklim, Produksi Apel Batu Terus Menurun

Patung berbentuk apel di tengah Alun-alun Kota Batu seakan menjadi penegas bahwa apel masih menjadi ikon Kota Batu.

Penulis: Dya Ayu | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/DYA AYU
MENGGELANTUNG - Buah apel menggelantung di kebun milik Utomo di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jumat (8/8). 

SURYAMALANG.COM, BATU - Apel hanya menjadi ikon bayangan dari Kota Batu. Ada patung berbentuk apel di tengah Alun-alun Kota Batu. Patung ini seakan menjadi penegas bahwa apel masih menjadi ikon Kota Batu. Selain itu, Kota Batu masih dikenal dengan julukan sebagak Kota Apel.

Namun, produksi apel di Kota Batu terus menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020, produksi apel mencapai 430.057 kuintal, lalu turun menjadi 350.090 kuintal pada tahun 2021, dan menjadi 299.962 kuintal pada 2022. Pada tahun 2023, produksi apel di Kota Batu sebesar 218.621 kuintal, dan turun drastis sampai tersisa 140.285 kuintal pada tahun 2024.

Petani apel, Utomo mengakui produksi apel di kebunnya jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Petani apel asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji ini mengatakan sekarang kebunnya hanya menghasilkan antara 1 sampai 3 ton buah apel setiap masa panen. "Sebagaian kebun saya pakai untuk wisata petik karena harganya lebih baik dibandingkan apelnya dijual kiloan," kata Utomo kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (8/8).

Tingginya biaya operasional yang tidak sebanding dengan hasil panen membuat para petani apel putus asa dan memilih menanam buah jeruk atau sayuran. Selama ini Utomo menutupi kerugian operasional kebun apel miliknya dengan membuka wisata petik apel. "Saya pernah rugi sampai ratusan juta rupiah karena apel tidak laku. Tapi saya tetap berusaha mempertahankan apel yang menjadi ikon Kota Batu," terangnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan KP) Kota Batu, Heru Yulianto mengatakan anomali iklim yang membuat produksi apel di Kota Batu menurun. "Anomali iklim itu menyebabkan curah hujan tidak menentu sehingga proses penyerbukan menjadi tidak maksimal, dan akhirnya produktivitas apel menurun. Anomali iklim juga menyebabkan suhu rata-rata di Kota Batu menjadi naik sehingga produktivitas apel menurun," kata Heru, Minggu (10/8).

Anomali iklim juga menyebabkan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) meningkat dan jenis OPT menjadi lebih variatif. "Mayoritas tanaman apel di Kota Batu berumur lebih dari 50 tahun. Produktivitasnya menurun, dan biaya produksi meningkat seiring dengan kenaikan pupuk non-subsidi dan pestisida serta kenaikan upah tenaga kerja. Karena tidak seimbang dengan harga jual yang cenderung rendah, petani enggan merawat tanaman apelnya dengan maksimal," terangnya.

Penyebab lainnya adalah tingkat kesuburan tanah menurun sehingga menyebabkan produktivitas apel juga menurun. Kondisi diperparah dengan mikroorganisme dalam tanah tidak ada karena penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang masif.

Namun, Heru mengklaim buah apel produksi Kota Batu masih tetap digemari dan memiliki pasar tersendiri di beberapa daerah di Indonesia. "Hasil panen dari Kota Batu dikirim ke Kalimantan, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali. Biasanya petani menjual hasil panenya ke tengkulak dan pedagang pengepul," ujarnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved