Jadi, hasil dari sampahnya bisa untuk membayar premi BPJS setiap bulannya.
Ponali, 60, member klinik baru saja menyelesaikan operasi prostat.
Untung dia sudah ikut BPJS dari sampahnya.
"Saya sudah dua tahun ini. Jadi operasi lalu ya tidak bayar," kata Ponali.
Informasinya, biaya operasi mencapai Rp 17 juta.
Setiap Rabu, ia menyetor sampah yang diambil oleh Taufiqurahman, project officer klinik asuransi sampah.
Warga Bumiayu RT 1/RW 5 ini juga rutin memeriksakan diri ke klinik.
Sedang Suwarni,68, juga memanfaatkan sampah-sampah dari toko anaknya untuk membayar asuransi kesehatan.
Ia bisa memeriksa sakit linu, pusing dll di klinik itu. "Semua keluarga saya ikut. Anak saya juga," kata dia.
Untuk mencari sampah ia mengaku tidak sulit karena anaknya punya toko pracangan.
Sehingga bekas-bekas pembungkus rokok, bekas botol mineral dll bisa untuk disetorkan ke Taufik seminggu sekali.
"Anak saya, Efi, bahkan saat melahirkan tidak mengeluarkan sama sekali dengan BPJS yang preminya dibayar sampah," papar warga Jl Kiai Parseh Jaya Kota Malang.
Menurut Taufik, ia bersama sopir pikap Rizal mengambil sampah di rumah member setiap Jumat.
"Sebulan, sampahnya bisa mencapai 700 sampai 800 Kg baik dari member dan sekolah," paparnya.
Di Kota Malang, ada delapan sekolah yang memberi sedekah sampah.
Yaitu SDN Arjosari 1, SDN Pandawangi, SMP Al Kautsar, SMPN 1, SMPN 3, SMPN 22, SMPN 23 dan SDN Sukun 1.
"Sedekah sampah dari sekolah sebulan sekali. Tiap Rabu kami mengambilnya pakai pikap pinjaman milik dr Gamal," tuturnya.
Dengan tambahan kendaraan roda tiga untuk pengangkut sampah nanti, maka akan sangat membantu. Sedekah sampah dari sekolah didapat sejak Juni 2017 lalu.
Baca tanpa iklan