34 tahun berselang, mie yang didirikan Linawati ini telah memiliki lima outlet dengan 28 karyawan.
Setiap hari, mie ini menghabiskan 20-50 kilogram (Kg) bahan.
Setiap hari warung makan mie ini menyiapkan sekitar 300 porsi.
Sebagai mie berusia tua, Mie Bromo POjok kerap mengandalkan pengunjung yang ingin bernostalgia ke Kota Malang.
“Kadang pengunjung ingin bernostalgia. Sehingga pelanggan kami kebanyakan dari luar Kota Malang, seperti Surabaya, dan Jakarta,” ujarnya.
Namun Mie Bromo Pojok tidak ingin terjebak nostalgia.
Pengelola mie bergerak maju seiring keinginan lidah pelanggan.
Di antaranya menyajikan variasi menu baru.
Hal ini dilakukan untuk memanjakan pelanggan di tengah tumbuhnya kedai mie yang menawarkan sajian kekinian.
“Saat ini banyak pesaing. Kekuatan kami ada di rasa, dan kami jamin halal.”
“Menu andalan adalah pangsit ayam jamur dan pangsit mie ayam. Juga ada menu baru seperti mie sosis keju,” terang Toni.
Mie Bromo Pojok juga menyajikan es campur, es serut yang ditampilkan secara menarik dengan aneka macam
isi tergantung selera.
Tidak hanya mie atau cuimie legenda di Kota Malang.
Wisatawan juga mudah menemukan kedai mie kekinian.
Di antaranya adalah mie yang dikenal dengan aneka level.
Baca tanpa iklan