Berita Malang Hari Ini

Tiga SMAN di Kawasan Tugu Malang Bentuk Komunitas Pelajar Sejarah Tugu

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: rahadian bagus priambodo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Telah lahir Komunitas Pelajar Sejarah Tugu (Kopaja) dari tiga SMAN di kawasan Tugu Malang, yaitu SMAN 1, 3 dan 4. Komunitas baru ini dibidani guru sejarah di sekolah itu dan mengajak para siswanya. Pada Sabtu (1/4/2023) dilakukan pemilihan ketua umum, ketua 1 dan 2. Dari hasil voting terpilih Erinda Amelya kelas 10 siswa SMAN 1. Sebagai Ketua 1 adalah Dalida dari SMAN 3 dan Ketua 2 adalah Abizar dari SMAN 4.

SURYAMALANG.COM|MALANG-Telah lahir Komunitas Pelajar Sejarah Tugu (Kopaja) dari tiga SMAN di kawasan Tugu Malang, yaitu SMAN 1,3 dan 4.

Komunitas baru ini dibina oleh guru sejarah di sekolah dan beranggotakan para siswanya.

Pada Sabtu (1/4/2023) dilakukan pemilihan ketua umum, ketua 1 dan 2. Dari hasil voting terpilih Erinda Amelya kelas 10 siswa SMAN 1.

Sebagai Ketua 1 adalah Dalida dari SMAN 3 dan Ketua 2 adalah Abizar dari SMAN 4. 

"Alasan saya mengikuti Kopaja karena saya pada dasarnya senang sejarah dan ingin jadi arkeolog. Kan ini juga berkaitan dengan sejarah," jelas Erinda pada suryamalang.com usai acara.

Dengan bergabung di komunitas, ia akan mendapat ilmu dan pengetahuan baru untuk meraih impiannya.

"Sejak masuk SMA, saya sudah ingin ikut komunitas  sejarah dan bisa bertemu teman-teman baru lainnya," tambahnya.

Dikatakan, di lingkungan SMAN 1 lebih condong ke sains. Sedang soshum masih kurang. Baik dari sisi guru dan kelasnya.

"Sehingga perlu koneksi di luar untuk belajar sejarah," jawabnya. Ia ingin setelah terpilih akan lebih mengenalkan komunitasnya ini di lingkungan sekolahnya. "Beberapa teman di kelas saya sudah gabung. Saya ingin mengajak teman lain di sekolah bahwa kegiatan di soshum itu juga seru dan asik yang tak kalah dengan kegiatan di sains," jawabnya.

Sedang pembina Kopaja dari SMAN 4 Malang yaitu guru sejarah bernama Intan Cahyaning Handayo menjelaskan, ide pendirian Kopaja ini karena ia meiihat di SMA sekarang memiliki pengetahuan yang berbeda-beda dengan adanya zonasi.

"Murid kita heterogen dari latar belakang yang bermacam-macam. Sehingga kita memfasilitasi anak-anak yang heterogen tapi punya minat tinggi dengan sejarah terfasilifasi dengan baik," jelas Intan.

Ada tiga sekolah yang terlibat yaitu SMAN 1, 3 dan 4 yan berada dalam satu komplek. Di tiga sekolah ini ada anak-anak tertentu yang minatnya di atas rata2 temannya pada sejarah.

Untuk membentuk ini relatif muda karena guru sejarah masuk dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sejarah. "Kebetulan kami yang di SMA Tugu adalah anggota MGMP. Awal komunikasinya ya disana dan kemudian baru mengajak siswanya," jelas dia.

Yang hadir di acara itu ada 64 siswa. Ia berharap berkembang lagi karena akan dikenalkan di sekolah masing-masing.  Nanti program komunitas seperti belajar langsung di situs sejarahnya. Di Malang disebutnya sangat banyak. "Di sekitar sekolah saja sudah bersejarah karena merupakan tempat pendidikan zaman Belanda," kata Intan. 

Juga ada Balaikota Malang yang pernah dibumi hanguskan saat agresi militer, Tugu, situs-situs  sejarah seperti candi dan lain-lain. Bisa saja membuat kegiatan dengan mendatangkan narasumber.

Halaman
12

Berita Terkini