Najwa membaca semua buku tentang bayi prematur, bayi dengan masalah jantung, dan masih banyak lagi.
"Aku melakukan segalanya, aku baca semua buku ten
tang bayi yang akan lahir, soal bayi prematur, alami gangguan jantung, aku baca itu semua," sambungnya.
Baca juga: Roy Suryo Kelabakan Usai Polemik Ijazah Dinyatakan Asli, Kini Sibuk Cari-cari Kesalahan Jokowi
Dari segi medis, Najwa juga melakukan banyak usaha.
Ia harus rela sering disuntik untuk memasukkan air ke kandungannya karena ketuban sering merembes.
"Jadi ketuban aku itu selalu merembes, seminggu sekali ada prosedur dokter harus selalu nyuntik, masukin air supaya cukup, supaya bayiku bisa hidup," ujar Najwa.
Najwa berpikir jika ia berusaha keras, Namiyah pasti bisa diselamatkan.
Namun Tuhan punya takdir lain.
"Aku mikir pokoknya kalau kita berusaha pasti dapat, tapi walau kita berusaha, Tuhannya nggak ngasih, ya, nggak ngasih," sambungnya.
Namiyah pun meninggal dunia tak lama setelah dilahirkan.
Kejadian ini sempat membuat Najwa merasa marah, ia pun melampiaskan kemarahannya dengan gila kerja.
"Aku marah, karena aku sempat nazar, kalau bayiku hidup, aku akan puasa nggak berhenti-henti, aku akan salat malam nggak berhenti," ujar Najwa.
"Aku ada fase marah, untuk bisa sampai akhirnya ikhlas itu panjang, pas Naima nggak ada, aku kerja gila," lanjutnya.
Kini, kesedihan kembali menghampiri Najwa setelah kepergian suami tercinta.
Ibrahim Sjarief Assegaf sang suami tutup usia akibat stroke dan pecah pembuluh darah, pada Selasa (20/5/2025), kemarin.