Sabtu, 11 April 2026

blitar

Gergaji Sel Selama 2 Jam, Bernyanyi "Bojo Loro", Tahanan Ini Kabur

"Saya hanya ikut-ikutan saja, bukan yang punya ide. Saya mau diajak kabur karena ingin segera bekerja, supaya bisa menghidupi keluarga saya,"

Penulis: Imam Taufiq | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Imam Taufiq
Sehari setelah tertangkap, Basuki, tahanan yang kabur seminggu dari sel Polres Blitar, Rabu (23/12), diserahkan ke kejaksaan. 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Meski baru satu napi yang tertangkap, namun dibalik kaburnya empat napi itu, banyak menyisakan cerita unik. Terutama, dibalik lolosnya dari sel Polres Blitar.

Dari empat napi yang kabur itu, baru Basuki (50), tahanan kasus dugaan pencabulan terhadap anak tirinya, yang tertangkap. Warga Desa Sumber Urip, Kecamatan Doko, Kab Blitar ini ditangkap di Desa Sekar, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Blitar, Selasa (22/12) siang kemarin.

Sehari setelah ia tertangkap kembali, Rabu (23/12) siang, kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Blitar.

"Itu karena berkasnya sudah P-21 (lengkap)," kata AKP Lahuri, Kasat Reskrim Polres Blitar.

Di saat diserahkan ke jaksa, Basuki menceritakan kronologis kaburnya dari sel. Menurutnya, yang punya ide kabur itu bukan dirinya, melainkan salah satu temannya. Namun, ia enggan menyebutkan namanya yang punya ide kabur itu.

"Saya hanya ikut-ikutan saja, bukan yang punya ide. Saya mau diajak kabur karena ingin segera bekerja, supaya bisa menghidupi keluarga saya," tuturnya sambil meneteskan air mata.

Untuk bisa lolos dari dalam sel, itu tak mudah, melainkan melalui perjuangan. Yang pasti, mereka harus bisa memutuskan jeruji atap sel. Caranya, dengan menggergajinya. Ia tak paham bagaimana mendapatkan gergaji itu. Namun, katanya, itu disiapkan salah satu napi yang punya ide kabur tersebut.

"Katanya, dia diberi temannya. Saya tahunya, sudah ada gergaji," tuturnya.

Awal menggergaji jeruji sel itu dilakukan malam hari atau bersamaan ada acara di Polres Blitar. Bersamaan ada acara itu, terdengar suara sound system yang sangat keras. Di saat itu, mereka baru memulai aksinya. Itu dilakukan empat hari sebelum mereka kabur pada Kamis (17/12) dini hari lalu.

"Karena suara sound system-nya cukup keras, sehingga penjaga sel tak kedengaran saat kami mulai menggergaji jeruji. Itu kami lakukan sekitar dua jam, dan baru memutuskan satu jeruji," paparnya.

Baru besuk siangnya, aksi itu dilanjutkan kembali. Untuk mengelabuhi petugas jaga, agar tak terdengar suara gergaji, keempatnya kompak membuat keramaian di dalam sel. Agar penjaga sel tak curiga, mereka kompak bernyanyi sambil mengikuti irama tepuk tangannya. Bersamaan itu, mereka bergantian menggergaji.

Untuk bisa menggergaji jeruji atap sel setinggi 3,5 meter, mereka bertumpu pada tong sampah.

"Kami menyanyikan lagu, "Bojo Loro, dan Kanggo Riko. Itu kami nyanyikan keras, sambil bertepuk tangan, sehingga penjaga tak curiga dan tak mendengar suara gergaji. Siang itu juga, satu jeruji lagi langsung putus," ungkapnya.

Karena dianggap dua jeruji yang putus itu, sudah bisa dilewati buat kabur, akhirnya mereka merencakan aksinya. Di antaranya, memilih kabur pada dini hari, disaat penjaganya lenga dan para napi lainnya tertidur. Untuk bisa naik ke atap jeruji itu, mereka tak hanya memanjat tong sampah namun juga memanfaatkan sarung. Sarung itu diikatkan ke atap jeruji yang masih utuh.

Hargo Bawono SH, Kasi Intel kejaksaan, mengatakan, saat ini Basuki jadi tahanan kejaksaan. Itu karena berkasnya sudah lengkap (P-21).

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved