Kuliner Legendaris Khas Malang
Ciri-ciri Kuliner Khas Malang, Orem-orem Bikin Tubuh Hangat
Warung Orem-orem Pak Tik semacam ruang nostalgia bagi warga Kota Malang dan pelancong.
Penulis: Benni Indo | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, MALANG – Warung Orem-orem Pak Tik semacam ruang nostalgia bagi warga Kota Malang dan pelancong. Warung yang berada di Jalan Irian Jaya nomor 1 ini ramai didatangi orang.
Warung Orem-orem Pak Tik ini sudah eksis sejak tahun 1967. Potongan koran yang tertempel di dinding warung menjadi bukti eksistensi warung yang didirikan oleh Tikmanan tersebut.
"Dulu abah bakul keliling. Kemudian ada yang menyarankan untuk menjual orem-orem, karena waktu itu belum ada yang jual. Aban mulai jualan tahun 1967, saat itu harga seporsi masih Rp 1," kata Kusnan Basori, generasi kedua dari Warung Orem-orem Pak Tik kepada SURYAMALANG.COM.
Orem-orem sendiri adalah sajian berkuah santan, sekilas mirip lodeh. Kuah gurihnya berpadu dengan potongan ketupat dan tempe mentah yang dimasak langsung dalam kuah panas sehingga matang perlahan, meresap dengan bumbu.
"Bumbunya mirip lodeh, ada kunyit, kencur, jahe, laos. Tempenya dimasak dalam kuah panas, jadi bumbunya merasuk," tambahnya.
Seiring waktu, usaha yang dulu dimulai dari pikulan keliling, berubah menjadi rombong, lalu berpindah-pindah kontrakan. Hingga akhirnya waring ini menetap di lokasi sekarang sejak hampir tiga dekade lalu.
Warung kecil ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB. Dalam sehari, warung ini bisa menjual sampai 100 porsi orem-orem.
Kusnan memastikan cita rasa warisan ayahnya tidak pernah berubah. "Bumbunya tetap pakai ramuan almarhum abah saya. Saya tidak pernah mengubahnya. Dari dulu cara masak ketupat juga sama, harus 12 jam biar pas. Saya belajar sendiri dengan melihat beliau masak," tuturnya.
Bagi banyak orang, orem-orem Pak Tik bukan hanya makanan, tapi pengalaman. Banyak pelanggan yang merasa tubuhnya hangat setelah menyantap kuah gurih itu. "Banyak yang bilang kalau makan ini enak, badan jadi berkeringat, dan seperti ada jamunya," urainya.
Berkat konsistensi itulah, warung ini tetap bertahan. Warung Orem-orem Pak Tik telah melewati lebih dari setengah abad perjalanan. Dari harga satu rupiah sampai sekarang.
Setiap sendok kuah gurihnya seakan bercerita tentang dedikasi seorang bapak yang memulai dari nol, lalu diwariskan kepada anaknya, agar cita rasa itu tetap hidup untuk generasi berikutnya. Kusnan berharap orem-orem bisa mendapat pengakuan resmi sebagai kuliner khas Malang. "Orem-rem ini memang hanya ada di Malang," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/nikmati-orem-orem-Malang.jpg)