Kampung Wisata Malang Mati Suri
Dilema Perkembangan Wisata Tematik Kota Malang, Rusak dan Mulai Sepi
Sudah tujuh tahun ini Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) berusaha untuk tetap bertahan sebagai ikon Kota Malang.
Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, MALANG - Sudah tujuh tahun ini Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) berusaha untuk tetap bertahan sebagai ikon Kota Malang. Kampung yang terletak di bantaran Sungai Brantas ini mencoba eksis di tengah menurunnya daya tarik kampung tematik di Kota Malang.
Tak hanya soal keindahan kampung, di balik warna-warna itu ada kisah panjang perjuangan warga untuk bertahan hidup. Warga berusaha menjaga ikon wisata yang pernah mengharumkan nama Kota Malang itu.
"Dulu antara 2018 sampai 2020, kunjungan masih ramai sekali. Tapi saat pandemi Covid-19 datang, kunjungan langsung drop," kenang Soni Parin, pengelola KWJ kepada SURYAMALANG.COM, Senin (20/10).
KWJ lahir dari ide sederhana, yakni menyulap kawasan padat dan kumuh di tepi sungai menjadi destinasi penuh warna. Setiap beberapa bulan, dinding dan atap rumah warga harus dicat ulang agar tampilan kampung tetap menarik di mata pengunjung.
"Sekarang kami mandiri, termasuk soal cat. Dulu sempat ada bantuan dari CSR, tapi sekarang swadaya. Kami beli cat sendiri. Kadang kami diberi potongan setengah harga oleh perusahaan cat yang pernah bekerja sama dengan kami," ujar Soni.
Biaya perawatan itu bersumber dari hasil penjualan tiket masuk. Setiap pengunjung lokal dikenai tiket Rp 5.000, sementara turis mancanegara bayar Rp 10.000.
Saat kondisi ramai, pengelola bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 1 juta per hari dari tiket. "Sebelum pandemi Covid-19, kunjungan bisa lebih ramai. Sekarang kunjungan masih stabil," terang Ketua RW 2 Kelurahan Jodipan ini.
Saat ini kunjungan di KWJ didominasi oleh wisatawan asing. Sekitar 80 persen pengunjung berasal turis luar negeri. Sedangkan sisanya hanya wisatawan domestik.
Lokasi KWJ yang berada di tengah Kota Malang dan berada di aliran Sungai Brantas masih menjadi daya tarik bagi wisatawan. "Kemarin itu ada turis dari Perancis yang datang untuk membuat film dokumenter," tuturnya.
Pendapatan dari tiket masuk tidak hanya untuk mempercantik kampung. Sebagian besar digunakan untuk kepentingan sosial warga. Pengelola KWJ yang menanggung semua kebutuhan sosial warga.
"Mulai dari iuran RT, sampah, sampai keamanan. Kalau ada warga yang dirawat di rumah sakit, kami bantu transpornya. Kalau ada warga meninggal, kampung yang menanggung semua biayanya, mulai dari kain kafan sampai pemakaman," ujarnya.
Meski namanya terkenal dan sering disebut di berbagai media dan vlog pariwisata, namun bantuan dari Pemkot Malang untuk KWJ terbilang minim. Soni menyebut sejauh ini dukungan dari Pemkot Malang hanya sebatas 'merestui' keberadaan kampung.
"Dulu sempat dibantu pagar dan fondasi di beberapa titik. Tapi setelah itu, tidak ada lagi. Padahal ada 23 kampung tematik di Kota Malang. Jangan hanya satu-dua kampung saja yang diperhatikan, biar tidak ada kecemburuan sosial," urainya.
Soni berharap Pemkot Malang tidak melupakan semangat awal pembentukan kampung tematik yang lebih menekankan kepada pemberdayaan masyarakat.
"Banyak kampung tematik yang mulai sepi, bahkan rusak. Kalau tidak ada perhatian, nanti kampung tematik tinggal kenangan saja," ujarnya.
| Peninggalan Mpu Sindok Terbengkalai, Tak Ada Dana untuk Perawatan Candi Songgoriti Kota Batu |
|
|---|
| Kondisi Wisata Bamboo Mewek Park Kini, Dulu Sempat Juara Kampung Tematik Kota Malang |
|
|---|
| Kampung Tematik di Kota Malang Lesu dan Sepi Pengunjung, Perlu Inovasi dan Dukungan Pemerintah |
|
|---|
| Kampung Warna-warni Jodipan, Ikon Kota Malang Masih Bertahan di Tengah Keterbatasan, Tanpa Bantuan |
|
|---|
| Kota Malang Butuh Regulasi Tentang Pariwisata, Selama Ini Masih Andalkan Pihak Ketiga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Kampung-Warna-Warni-dan-Kampung-Tridi-Kota-Malang.jpg)