Kabupaten Malang
Harga Terjun Bebas, Petani di Pujon Malang Membiarkan Wortelnya Membusuk di Tegalan
Harga Wortel Terjun Bebas, Petani di Lereng Gunung Argowayang Kecamatan Pujon Membiarkan Wortelnya Membusuk di Tegalan
Penulis: Imam Taufiq | Editor: Eko Darmoko
Ringkasan Berita:
- Kaum petani di lereng Gunung Argowayang di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, bertarung melawan cuaca ekstrem dan anjloknya harga jual sayuran
- Mereka batal panen meski tanaman wortelnya sudah siap dipanen, namun akhirnya tak dijual ke pasaran
- Banyak petani wortel yang tak bisa panen meski hasil panen wortelnya itu bagus
- Mereka memang enggan memanen wortelnya sehingga dibiarkan membusuk di tegalan
SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Jeritan para petani di lereng Gunung Argowayang di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, seperti tak terdengar.
Bukan cuma sedang bertarung dengan cuaca ekstrem atau hujan yang tiada henti, namun juga tak berdaya menghadapi permainan pasar dari harga hasil panennya, yang kian terjun bebas.
Seperti saat ini. Di saat sedang musim tanam bawang merah dengan varietas batu ijo, sebagian kecil petani dari 1.500 petani yang tergabung pada kelompok tani itu menjerit.
Sebab, mereka terancam tak bisa Lebaran akibat harga wortel, yang terus terjun bebas itu.
Dampaknya, mereka batal panen meski tanaman wortelnya sudah siap dipanen, namun akhirnya tak dijual ke pasaran.
Baca juga: Ribuan Petani Bawang Merah Batu Ijo di Kabupaten Malang Sedang Bertarung dengan Cuaca Ekstrem
"Biasanya, tiap menjelang Lebaran seperti ini, harga sayur-mayur itu bagus, seperti tomat, cabai, dll."
"Bahkan, harga cabai bukan naik lagi tapi meroket, karena dari harga Rp 20 ribu per Kg jadi Rp 100 ribu per Kg," ungkap Alfan, petani asal Desa Tawangsari, yang juga menanam bawang merah.
Namun, beda dengan wortel atau lobak merah. Saat musim panen wortel selama awal bulan Ramadhan ini, justru harganya nyungsep atau terjun bebas, karena dari harga normal Rp 5 ribu per Kg kini cuma Rp 2 ribu per Kg.
"Sempat harganya turun jadi Rp 3 ribu per Kg. Dengan harga segitu, meski tak dapat untung, petani tetap memanennya."
"Namun, begitu harganya terjun bebas atau tinggal Rp 2 ribu sampai Rp 1 ribu per Kg, petani tak bisa apa-apa," ungkapnya.
Kondisi itu juga dibenarkan Miftakhul Anwar, Kades Tawangsari.
Menurutnya, banyak petani wartel, yang tak bisa panen meski hasil panen wortelnya itu bagus. Mereka itu bukan gagal panen akibat diserang hama.
Namun, mereka memang enggan memanen wortelnya sehingga dibiarkan membusuk di tegalan.
Alasannya, karena harganya cuma Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per Kg.
Baca juga: Pakai Pistol Mainan, Polisi Gadungan Asal Singosari Malang Merampas Mobil Milik Warga Lumajang
"Dengan harga segitu, para petani di daerah kami, nggak mau memanen. Itu dibiarkan jadi semak belukar dan membusuk di tegalan," ungkap Salim, panggilan Miftakhul Anwar.
| Penarikan Tarif Masuk Bendungan Lahor Malang Kembali Beroperasi Sementara Mulai Senin 11 Mei 2026 |
|
|---|
| Proyek Bibit Tebu Rp23 Miliar di Malang Carut-Marut, Uang HOK Petani Diduga Disunat dan Bibit Busuk |
|
|---|
| Proyek Alun-alun Kepanjen Butuh Dana Rp 150 Miliar, Pemkab Malang Kolaborasi dengan Bank Jatim |
|
|---|
| Pencairan Dana Kompensasi Rp 1,5 Miliar dari Pemkot Malang untuk Warga Wagir Malang Masih Buram |
|
|---|
| DLH Kota Malang Tunggu Perwali Cairkan Kompensasi TPA Supit Urang, Warga Ancam Temui Wali Kota |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Petani-di-Desa-Tawangsari-Kecamatan-Pujon-Kabupaten-Malang-wortel.jpg)