Senin, 8 Juni 2026

Kota Malang

Dosen UMM Kembangkan Batik Berbasis Artificial Intelligence, Motif Nitik Jadi Lebih Variatif

Dosen UMM Kembangkan Batik Berbasis Artificial Intelligence, Motif Nitik Jadi Lebih Variatif

Tayang:
ISTIMEWA
BATIK - Dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Ir Agus Eko Minarno MKom IPM, mengembangkan inovasi desain batik berbasis Artificial Intelligence (AI), Jumat (27/3/2026). 
Ringkasan Berita:

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Upaya memadukan teknologi dengan budaya lokal terus dilakukan kalangan akademisi, termasuk di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mampu mengembangkan desain batik berbasis Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Inovasi ini memungkinkan ratusan motif batik tercipta hanya dalam hitungan detik.

Menariknya, pengembangan tersebut difokuskan pada motif Nitik, salah satu corak tradisional yang dinilai memiliki potensi besar namun belum berkembang pesat dibanding batik modern.

Penggagas inovasi, Agus Eko Minarno, menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan berbasis Generative Adversarial Network (GANs).

Metode ini melatih komputer untuk mengenali pola batik yang sudah ada, lalu mengombinasikannya menjadi desain baru tanpa meninggalkan unsur tradisional.

"Komputer tidak sekadar meniru, tetapi mampu menciptakan motif baru yang tetap memiliki karakter batik asli," ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (27/3/2026).

Baca juga: Detail Jersey Anyar Timnas Indonesia 2026: Motif Batik Parang yang Dipatenkan dan Terasa Ringan

Pengembangan batik berbasis Artificial Intelligence (AI) ini berangkat dari riset doktoral yang kemudian dikembangkan lebih lanjut.

Dalam prosesnya, Agus menggandeng Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad untuk mengumpulkan data motif sebagai bahan pelatihan sistem.

Dari kolaborasi tersebut, terkumpul data set batik Nitik yang cukup besar.

Terdiri dari 60 kategori dengan total 960 citra.

Data inilah yang menjadi fondasi utama dalam melatih model AI, baik untuk klasifikasi maupun generasi motif baru.

Ia menilai motif Nitik memiliki keunggulan tersendiri karena pola geometrisnya yang lebih mudah dipelajari algoritma karena memiliki karakter visual yang kuat.

Di sisi lain, perkembangan motif ini cenderung stagnan sehingga membutuhkan inovasi agar tetap diminati pasar.

Baca juga: Magis! Pameran Lukisan Batik Titirasi Karya Bambang Sarasno Bikin Auditorium UB Malang Bersinar

Agus menyampaikan, selama ini, desain batik dinilai cenderung berulang, sehingga kurang memberikan variasi baru di pasar.

Kehadiran teknologi AI menjadi solusi untuk memecahkan persoalan tersebut.

Melalui GANs, berbagai motif lama dapat dikombinasikan menjadi desain baru yang unik dan autentik.

Hasilnya, muncul ragam motif Nitik yang lebih segar tanpa menghilangkan pakem tradisional.

"Inovasi ini membuka peluang eksplorasi desain tanpa batas, tetapi tetap berakar pada budaya," imbuhnya.

Tak hanya berhenti di ranah akademik, inovasi ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi pelaku UMKM batik.

Motif yang dihasilkan AI bisa menjadi sumber inspirasi bagi pengrajin dalam mengembangkan produk baru.

Dengan variasi desain yang lebih beragam, nilai jual batik pun berpotensi meningkat, sekaligus memperkuat daya saing di pasar.

"Inovasi ini diharapkan membantu UMKM mengembangkan dan memasarkan batik dengan motif Nitik yang baru."

"Jika motif berkembang, maka nilai jual meningkat dan pertumbuhan ekonomi pengrajin juga terdorong," tandasnya.

 

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved