Kota Malang
Petani Cabai di Kota Malang Bisa Panen hingga 1 Kuintal per Hari
Produksi cabai di Kota Malang menunjukkan hasil yang cukup memuaskan di tingkat petani, meski harga jual mengalami fluktuasi
Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
Ringkasan Berita:
- Meski harga jual di lapangan mengalami fluktuasi, produksi cabai di Kota Malang menunjukkan hasil yang cukup memuaskan di tingkat petani
- Proses budidaya dilakukan secara intensif, mulai dari pengolahan tanah hingga pemupukan menggunakan pupuk kandang
- Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, Slamet Husnan menjelaskan, penyaluran saprodi untuk menunjang pertanian di Kota Malang
SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Produksi cabai di Kota Malang menunjukkan hasil yang cukup memuaskan di tingkat petani, meski harga jual di lapangan mengalami fluktuasi.
Hal ini disampaikan salah satu petani cabai asal Kelurahan Buring, Damanhuri, yang telah puluhan tahun menekuni usaha pertanian.
“Sudah mulai bertani sejak umur 15 tahun,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (16/4/2026).
Damanhuri menanam cabai jenis 'Ori' di lahan seluas sekitar 7.000 meter persegi dengan total 12.000 pohon.
Ia menjelaskan, proses budidaya dilakukan secara intensif, mulai dari pengolahan tanah hingga pemupukan menggunakan pupuk kandang.
"Tanah diolah, dipacul, lalu diberi pupuk kandang kambing. Alhamdulillah hasilnya bagus," katanya.
Dari lahan tersebut, produksi cabai tergolong tinggi.
Baca juga: Panen Cabai di Kelurahan Buring, Wali Kota Malang Telusuri Selisih Harga dari Petani ke Pasar
Dalam satu kali masa petik, hasil panen bisa mencapai 4 kuintal, dan dalam kondisi optimal mampu menghasilkan hingga 1 kuintal per hari.
“Rata-rata sehari bisa 1 kuintal. Enam hari bisa 6 kuintal,” jelasnya.
Masa tanam cabai berlangsung sekitar lima bulan, dengan frekuensi panen yang bisa dilakukan berkali-kali selama periode tersebut.
“Umur lima bulan sudah habis, lalu tanam lagi,” ujarnya.
Meski produksi cukup stabil, harga cabai di tingkat petani justru mengalami penurunan.
Saat ini, harga jual berkisar antara Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram.
“Kemarin Rp 50 ribu, sekarang turun jadi Rp 45 ribu per kilo,” ungkapnya.
Untuk pemasaran, Damanhuri tidak mengalami kendala berarti.
Hasil panen biasanya langsung dibeli oleh tengkulak yang datang ke lokasi.
“Ada bakul yang datang ke rumah, jadi penjualannya lancar,” katanya.
Ke depan, ia berharap usaha pertanian yang dijalankannya dapat terus berkembang dengan hasil yang semakin meningkat.
“Harapannya usaha semakin maju dan hasilnya meningkat,” pungkasnya.
Produksi cabai di tingkat petani ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pasokan komoditas pangan, meski tantangan harga dan distribusi masih menjadi perhatian di tingkat pasar.
Baca juga: Desa Giripurno Disiapkan Jadi Kawasan Smart And Integrated Farming, Regenerasi Petani di Kota Batu
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, Slamet Husnan menjelaskan, penyaluran Sarana Produksi Pertanian (Saprodi) untuk menunjang pertanian di Kota Malang.
Slamet berpendapat, penggunaan teknologi sangat dibutuhkan para petani di Kota Malang.
“Tahun lalu kami juga menyalurkan bantuan teknologi untuk petani padi."
"Penggunaan teknologi ini sangat diperlukan, terutama di Kota Malang yang lahan pertaniannya terbatas,” paparnya.
Mengenai harga di tingkat petani, Slamet menilai bahwa dengan harga saat ini, Rp 50 ribu per Kg, petani sudah bisa mengambil untung.
Kata Slamet, jumlah tersebut sudah dikurangi dengan biaya usaha tani atau produksi.
“Total satu kali tanam bisa panen 15 kali dengan berat 6 ton."
"Dengan biaya usaha tani total Rp 75 juta, sementara total pendapatan Rp 200 juta,” ungkap Slamet.
Dispangtan terus mengintensifkan pendampingan yang dilakukan oleh penyuluh di lapangan untuk pertumbuhan tanam dan perlindungan hama penyakit.
Hal itu untuk memastikan kualitas panen terpenuhi.
“Kami juga salurkan bantuan benih cabai sesuai usulan dari kelompok tani,” papar Slamet.
Slamet Husnan
Kota Malang
Pemkot Malang
petani cabai
cabai
Sarana Produksi Pertanian (Saprodi)
SURYAMALANG.COM
| Intan Sebut Rey Janjikan Lamborghini Beda Logo, Perhiasan Rp103 Juta: Kasus Suami Wanita di Malang |
|
|---|
| Cegah Kelangkaan, Bulog Gelontorkan Ribuan Liter Minyakita ke Pasar di Malang dan Pasuruan |
|
|---|
| Bola Liar Pernikahan Sesama Wanita, Intan Anggraeni Bikin Laporan Lagi, Rey: Biarkan Proses Bergulir |
|
|---|
| Kader Partai NasDem Malang Raya Tuntut Permintaan Maaf dari Majalah Tempo |
|
|---|
| DPRD Tekankan Penegakan Perda untuk Kejar Target Ruang Terbuka Hijau Kota Malang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Wali-Kota-Malang-Wahyu-Hidayat-memberikan-bantuan-alat-pertanian-petani-di-Kelurahan-Buring.jpg)