Kota Malang
Soal Wacana Penutupan Prodi, Warek UB : Bukan Hal Tabu tapi Tak Bisa Dilakukan Tergesa-gesa
Universitas Brawijaya (UB) Malang angkat bicara tentang wacana penutupan prodi di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kebutuhan industri.
Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah | Editor: iksan fauzi
Ringkasan Berita:
- Universitas Negeri Jember (Unej) mengembangkan program studi (Prodi) sesuai kebutuhan dan mengurangi daya tampung mahasiswa.
- Perguruan tinggi harus memiliki strategi pengembangan Prodi.
- UPN Veteran Jatim melakukan peninjauan kurikulum secara berkala.
SURYAMALANG.COM | MALANG - Universitas Brawijaya (UB) Malang angkat bicara tentang wacana penutupan program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri masa mendatang.
UB menegaskan langkah tersebut bukan sesuatu yang tabu di dunia pendidikan tinggi.
Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof Dr Ir Imam Santoso MP mengatakan, keputusan penutupan prodi harus melalui kajian mendalam dan mempertimbangkan banyak aspek.
Mulai dari mutu akademik hingga kebutuhan dunia kerja.
Penutupan prodi merupakan keniscayaan apabila hasil evaluasi menunjukkan program tersebut memang sudah tidak layak dipertahankan.
Meski begitu, kata Prof Imam Santoso, hasil kajian tidak selalu berujung pada penutupan.
Dalam sejumlah kasus, justru ditemukan kebutuhan untuk memperkuat arah keilmuan melalui penyesuaian kurikulum maupun penajaman kompetensi lulusan.
“Tidak mustahil hasil telaah tersebut bukan merekomendasikan penutupan, tetapi penguatan stream keilmuan spesifik sehingga program studi itu bisa berkembang lebih baik,” kata Prof Imam, Kamis (7/5/2026) lalu.
Prof Imam menjelaskan, UB telah memiliki regulasi terkait pembukaan hingga penutupan prodi melalui Peraturan Rektor Nomor 78 Tahun 2023 tentang Pembukaan, Perubahan, Penggabungan, dan Penutupan Program Studi.
Dalam aturan tersebut, terdapat beberapa alasan yang menjadi dasar evaluasi penutupan prodi.
Di antaranya, perubahan kebijakan pemerintah pusat, penurunan mutu akademik secara drastis dalam beberapa tahun berturut-turut, hingga ketidaksesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan kebutuhan pemangku kepentingan.
Menurut Prof Imam, prodi yang kualitasnya terus menurun meski telah dilakukan pembinaan bisa dinilai tidak layak untuk dilanjutkan.
Namun demikian, seluruh proses harus berjalan sesuai mekanisme yang berlaku.
“Pengusulan penutupan program studi harus mengikuti prosedur sesuai mekanismenya,” beber Prof Imam.
Prof Imam menjelaskan, usulan penutupan dimulai dari departemen yang kemudian dibahas bersama Senat Fakultas.
Jika disetujui Senat Akademik Fakultas, maka usulan diteruskan kepada Rektor.
Selanjutnya, Direktorat Inovasi Pembelajaran dan Pendidikan (DIPP) akan melakukan review sebelum Rektor meminta pertimbangan Senat Akademik Universitas.
Prof Imam menilai, keputusan terkait penutupan prodi tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa karena dampaknya sangat luas, baik bagi institusi maupun kebutuhan sumber daya manusia nasional.
“Harus dinilai secara komprehensif dampaknya secara institusional maupun kontribusinya bagi pembangunan yang makin kompleks dan membutuhkan SDM handal,” jelas Prof Imam.
Baca juga: UB Malang Gandeng UNESCO untuk Selamatkan Mata Air dan Siapkan Gerakan Kampus Peduli Lingkungan
Kebutuhan Nyata di Masyarakat Jadi Indikator
Direktur DIPP UB, Ir Ishardita Pambudi Tama ST MT PhD IPU ASEAN Eng menegaskan, pembukaan maupun penutupan prodi sejatinya sangat dipengaruhi kebutuhan masyarakat dan performa program studi itu sendiri.
Menurutnya, saat UB membuka prodi baru, salah satu indikator utama yang dilihat adalah ada tidaknya kebutuhan nyata di masyarakat, bukan sekadar keinginan dosen atau institusi.
“Kalau di luar negeri, penutupan prodi merupakan hal biasa jika memang diperlukan,” ujar Ishardita.
Ishardita mencontohkan pengalaman saat menempuh studi doktoral di Australia, di mana sejumlah prodi ditutup karena performanya kurang baik.
Dosen dan tenaga kependidikan kemudian dialihkan ke program lain yang lebih berkembang.
Meski demikian, jelas Ishardita, proses tersebut dilakukan melalui evaluasi panjang dan pertimbangan menyeluruh, bukan keputusan mendadak.
Karena itu, yang terpenting bukan sekadar mempertanyakan prodi ditutup atau tidak, tetapi bagaimana evaluasi dilakukan secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
UB sendiri, lanjut dia, rutin meninjau performa prodi melalui penerapan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).
Evaluasi dilakukan untuk memastikan lulusan tetap sesuai kebutuhan industri, lembaga riset, maupun dunia pendidikan.
“Jika relevan, tentu risiko untuk ditutup akan sangat minimal. Pengelola program studi harus selalu memperhatikan apa yang dibutuhkan masyarakat,” tandasnya.
Jumlah Lulusan dengan Loker Jadi Pertimbangan
Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna dalam wawancara dengan SURYAMALANG.COM menyebut, apa yang dimaksud pihak Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi perihal Prodi tidak relevan itu berkaitan dengan jumlah lulusan dan perbandingan lowongan kerja atau bidang kerjanya.
Namun, tidak serta merta Prodi yang disebut tidak relevan itu harus ditutup, karena jika itu yang diambil seakan mengurangi otonomi perguruan tinggi.
Iwan mengiyakan, prodi yang tidak relevan biasanya sedikit peminat. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus memiliki strategi untuk pengembangan Prodi.
Iwan mencontohkan fenomena di sejumlah kampus yang terjadi pada Prodi Fisika di Fakultas MIPA.
“Prodi Fisika saat ini kurang peminat, dan ini fenomena banyak kampus, tidak hanya di Universitas Jember saja. Strateginya apa, kami mengurangi kelas atau daya tampung,” ujar Iwan.
Strategi lainnya adalah membuka Prodi yang saat ini relevan atau diminati masyarakat.
Untuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unej misalkan, ada pengurangan daya tampung untuk Prodi Fisika.
Namun Unej membuka Prodi baru di MIPA yakni Sains Data, yang penerimaan mahasiswanya dimulai lewat Jalur Mandiri 2026.
Mengacu pada data Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) Unej 2026, jumlah pendaftar Prodi Fisika lewati jalur SNBP adalah 61 orang, dengan daya tampung 34.
“Kalau peminat sampai nol itu tidak pernah ada, tetapi peminat kurang dari daya tampung pernah ada. Karenanya, kami lakukan solusi-solusi, antara lain mengurangi daya tampung dan membuka prodi baru, seperti yang di MIPA,” tegas Iwan.
Fenomena sedikitnya peminat di bidang Fisika juga terlihat di Pendidikan Fisika FKIP lewat jalur SNBP 2026, yang peminatnya juga kurang dari 100 orang yakni 92 orang, tetapi daya tampungnya 64.
Hanya melihat peminat Prodi Pendidikan Fisika FKIP yang kurang dari 100 orang lewat jalur SNBP, tidak bisa serta merta jadi patokan jika fakultas yang mencetak para guru ini sepi peminat.
Karena sejumlah prodi di FKIP Unej masih tetap masuk 10 besar prodi dengan jumlah peminat terbanyak lewat SNBP 2026, dan juga lewat Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) 2026.
Pendidikan Biologi FKIP Unej masuk dalam 10 besar jumlah peminat terbanyak Bidang Saintek lewat SNBP 2026.
Jumlah peminatnya adalah 322 orang, sedangkan daya tampungnya 55 saja.
Sementara untuk Bidang Sosial Humaniora, Prodi dari FKIP yang masuk dalam 10 besar peminat terbanyak adalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Pendidikan Bahasa Inggris (SNBP).
Sementara yang lewat SNBT termasuk dalam 10 besar peminat terbanyak adalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), serta Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Peminatnya rata-rata di atas 300 orang.
“PGSD masih termasuk yang diminati, artinya banyak yang kepingin menjadi guru,” terang Iwan.
Ia mengaku pernah ada masa FKIP tidak dilirik oleh masyarakat. Hal ini dimungkinkan berkaitan dengan kesejahteraan guru.
“Namun ketika ada sertifikasi, masyarakat berbondong-bondong lagi masuk ke FKIP,” tegas Iwan.
Jika mengacu pada problem lulusan FKIP seperi guru, Iwan menyebut perihal distribusi guru, termasuk yang menjadi sumber persoalan.
“Persoalannya bisa jadi di distribusi guru. Di Jawa kelebihan guru, tapi di Kalimantan menjerit kekurangan guru,” lanjut Iwan.
PGSD FKIP Universitas Jember masih menjadi program studi yang paling diminati pendaftar jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 untuk Prodi Bidang Sosial Humaniora (Soshum).
Sedangkan di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) untuk Prodi Soshum, Ilmu Hukum yang berada di perangkat pertama paling banyak peminatnya.
Berikut 10 Prodi S-1 Bidang Soshum jalur SNBP Unej 2026, yakni Pendidikan Guru Sekolah Dasar (756 peminat), Manajemen (742),
Ilmu Hukum (610), Akuntansi (572), Ilmu Administrasi Bisnis (565), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (447), Ilmu Administrasi Negara (407), Sosiologi (345), Pendidikan Bahasa Inggris (309), dan Ilmu Kesejahteraan Sosial (307).
Sementara 10 Prodi Soshum paling banyak peminatnya lewat jalur SNBT Unej 2026, yakni Ilmu Hukum (1.031 peminat), Manajemen (949), 3.
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (689), Akuntansi (671), Ilmu Administrasi Bisnis (635), Ilmu Administrasi Negara (528), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (403), Ilmu Kesejahteraan Sosial (392), Ekonomi Pembangunan (370), dan Sosiologi (367).
“Peminat PGSD banyak, rupanya banyak yang suka menjadi guru SD,” tutur Iwan Taruna.
Iwan menambahkan, pernah ada masa peminat di FKIP sempat menurun.
Namun seiring adanya kebijakan sertifikasi pada profesi guru, animo masyarakat kembali naik untuk berkuliah di fakultas yang mencetak tenaga guru tersebut.
UPN Terus Evaluasi Kurikulum dan Dosen
Wakil Rektor I Bidang Akademik UPN Veteran Jawa Timur, Prof. Euis Nurul Hidayah, S.T.,M.T.,Ph.D mengatakan pada dasarnya seluruh program studi dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna lulusan dan tantangan dunia kerja.
“Program studi dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna lulusan, yang digambarkan dalam bentuk profil profesional mandiri pada program studi, kemudian diterjemahkan dalam kurikulum melalui capaian pembelajaran lulusan,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (9/5/2026).
Menurutnya, ketika sebuah program studi dinilai kurang relevan, maka langkah yang perlu dilakukan adalah evaluasi dan pengembangan secara menyeluruh, mulai dari kurikulum hingga kualitas sumber daya manusia pengajarnya.
“Jika program studi dinilai kurang relevan, perlu ditinjau kembali kurikulumnya, mungkin perlu pengembangan dan penyegaran dosen atau SDM, serta melakukan tracer study secara cermat agar ada data yang jelas terkait profil lulusan,” katanya.
Prof Euis menjelaskan, seluruh program studi di UPN Veteran Jawa Timur telah melakukan peninjauan kurikulum secara berkala.
Pembaruan dilakukan menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, hingga isu yang berkembang di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
“Setidaknya ada perbaikan berkelanjutan pada materi, modul, metode, dan proses pembelajaran yang diselaraskan dengan perkembangan keilmuan dan isu-isu di lapangan,” jelasnya.
Dalam mengukur relevansi sebuah program studi, kampus menggunakan sejumlah indikator penting, seperti tingkat penyerapan lulusan di dunia kerja, kesesuaian pekerjaan dengan kompetensi lulusan, hingga waktu tunggu mendapatkan pekerjaan.
Selain itu, pihak kampus juga memperhatikan umpan balik dari pengguna lulusan terhadap lulusan yang dihasilkan.
“Indikator yang digunakan antara lain jumlah lulusan yang bekerja sesuai profil profesional mandiri program studi, jumlah lulusan yang bekerja, berwirausaha maupun studi lanjut, serta feedback dari pengguna lulusan,” ungkapnya.
Meski muncul kekhawatiran terkait program studi yang dianggap kurang relevan, Prof Euis menyebut animo masyarakat terhadap program studi di UPN Veteran Jawa Timur secara umum masih cukup baik.
“Sejauh ini rata-rata peminat atau animo pada program studi cenderung meningkat, walaupun ada beberapa program studi yang fluktuatif,” ujarnya.
Ia menambahkan, belum terjadi penurunan signifikan jumlah pendaftar di lingkungan kampus tersebut.
Namun, menurutnya masih banyak calon mahasiswa yang belum memahami prospek karier dari sejumlah program studi tertentu.
“Calon mahasiswa belum mengenal atau belum mendapatkan informasi lebih lengkap terkait hal yang dipelajari maupun potensi pengembangan karier, sehingga cenderung memilih program studi yang lebih dikenal,” katanya.
Untuk menjaga daya saing program studi, UPN Veteran Jawa Timur juga terus melakukan berbagai inovasi pembelajaran.
Salah satunya dengan melibatkan praktisi industri dalam proses pengajaran hingga modernisasi fasilitas pembelajaran.
“Program studi melakukan inovasi pembelajaran dengan melibatkan praktisi mengajar, meningkatkan kompetensi dosen, melakukan kolaborasi dengan stakeholder, serta modernisasi sarana dan prasarana pembelajaran,” jelas Prof Euis.
Keterlibatan dunia industri dalam penyusunan kurikulum juga menjadi bagian penting dalam pengembangan program studi di kampus tersebut.
“Program studi wajib melibatkan dunia usaha, dunia industri, alumni, dan asosiasi keilmuan dalam melakukan peninjauan dan redesain kurikulum secara periodik,” tuturnya.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), UPN Veteran Jawa Timur mulai mengintegrasikan teknologi tersebut dalam proses pembelajaran.
“Saat ini program studi telah mengimplementasikan kecerdasan buatan dan teknologi digital dalam proses pembelajaran, misalnya penggunaan AI untuk cek plagiasi karya sivitas akademika,” ujarnya.
Selain itu, kampus juga menerapkan berbagai strategi untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa agar siap menghadapi kebutuhan pasar kerja di masa depan, seperti project based learning, pengalaman belajar di luar kampus, hingga sertifikasi kompetensi.
Euis menilai, ke depan kebutuhan program studi akan semakin spesifik mengikuti perkembangan zaman yang berlangsung sangat cepat.
“Perkembangan zaman sangat dinamis dan cepat, sehingga kebutuhan program studi akan menjadi lebih spesifik dan meningkat,” katanya.
Ia pun mengingatkan calon mahasiswa agar memilih program studi berdasarkan kebutuhan dan prospek masa depan, bukan sekadar mengikuti tren.
“Memilih program studi karena kebutuhan atau need, bukan sekadar keinginan atau want, sehingga calon mahasiswa harus mengetahui profil profesional mandiri dan peranannya dalam perkembangan keilmuan,” ungkapnya. (gar/uni/ffs)
Kota Malang
Universitas Brawijaya (UB)
Universitas Negeri Jember
UPN Veteran Jawa Timur
wacana penutupan prodi
SURYAMALANG.COM
Prof Dr Ir Imam Santoso MP
meaningful
multiangle
eksklusif
| Hotel Santika Premiere Malang Raih Penghargaan Pelestarian dan Pengelolaan Lingkungan dari Pemkot |
|
|---|
| Disporapar Kota Malang Siapkan Revitalisasi Kampung Tematik, Fokus Inovasi dan Kolaborasi |
|
|---|
| UB Malang Gandeng UNESCO untuk Selamatkan Mata Air dan Siapkan Gerakan Kampus Peduli Lingkungan |
|
|---|
| Juru Parkir Pasar Kebalen Kota Malang Dukung Penertiban, Harap Ada Lahan Parkir Resmi |
|
|---|
| Dishub Kota Malang Akan Gunakan Lahan Depan Pasar Kebalen untuk Parkir Kendaraan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Soal-Wacana-Penutupan-Prodi-Warek-UB-Bukan-Hal-Tabu-tapi-Tak-Bisa-Dilakukan-Tergesa-gesa.jpg)