Kota Malang
Pemkot Malang Masuk 10 Besar Prioritas Pelaksanaan Program LSDP
Pemkot Malang masuk dalam 10 besar kabupaten/kota di Indonesia dalam program Local Service Delivery Program (LSDP)
Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
Ringkasan Berita:
- Pemkot Malang masuk dalam 10 besar kabupaten/kota di Indonesia dalam program Local Service Delivery Program (LSDP)
- Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengatakan, program tersebut bertujuan mengoptimalkan pengelolaan sampah di Kota Malang dari hulu hingga hilir
SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Pemkot Malang masuk dalam 10 besar kabupaten/kota di Indonesia dalam program Local Service Delivery Program (LSDP) untuk pengembangan sarana dan prasarana persampahan.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengatakan, program tersebut bertujuan mengoptimalkan pengelolaan sampah di Kota Malang dari hulu hingga hilir.
“Kota Malang sudah masuk 10 besar kota/kabupaten di Indonesia yang program LSDP, tentunya ini kabar baik buat kita untuk pengolahan sampah,” ujar Wahyu Hidayat kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (12/6/2026).
Wahyu Hidayat menerangkan, LSDP merupakan program bantuan kerja sama luar negeri dari Pemerintah Jepang yang bekerja sama dengan Kementerian Keuangan RI.
Program tersebut diberikan kepada sejumlah pemerintah daerah di Indonesia untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah.
“LSDP ini adalah bantuan kerja sama luar negeri dari negara Jepang yang bekerjasama dengan Kemenkeu dan diberikan bantuan kepada pemerintah kabupaten kota yang ada di Indonesia,” katanya.
Wahyu menguraikan, awalnya Pemkot Malang akan mengerjakan proyek Pembangkit Sampah Energi Listrik atau PSEL.
Namun kemudian proyek tersebut bergeser ke Pemkab Malang.
Kota Malang akan memasok puluhan ton sampah ke Kabupaten Malang untuk kebutuhan operasional PSEL. Sisa sampah yang tertinggal di Kota Malang, akan dikelola melalui LSDP.
“Jadi ikut yang PSEL di Kabupaten Malang dan sisa sampahnya untuk LSDP,” jelasnya.
Baca juga: 80 Angkot Bakal Beroperasi Menjadi Angkutan Pelajar di Kota Malang
Melalui program tersebut, seluruh kebutuhan pengelolaan sampah di Kota Malang, mulai dari hulu hingga hilir, ditargetkan dapat terpenuhi secara bertahap.
Wahyu menerangkan, proses persiapan program akan dimulai tahun ini. Sementara realisasi program dijadwalkan berlangsung pada 2027.
Untuk total kebutuhan anggaran selama lima tahun ke depan, diperkirakan mencapai Rp 150 miliar hingga Rp 200 miliar.
Pemkot Malang akan mengeluarkan pendanaan terlebih dahulu.
Setelahnya, biaya yang telah dikeluarkan oleh Pemkot Malang akan diganti oleh Kementerian Keuangan.
“Total keseluruhan selama lima tahun itu kurang lebih antara Rp 150 sampai dengan Rp 200 miliar,” pungkas Wahyu.
Anggota Komisi C DPRD Kota Malang, Arif Wahyudi, menilai bahwa kebijakan anggaran di Pemkot Malang belum berpihak pada persoalan sampah yang kini menjadi isu krusial.
Usulan awal alokasi anggaran di DLH sebanyak Rp 142 miliar, namun yang disetujui Rp 115 miliar.
Anggaran operasional untuk sampah ditetapkan sebesar Rp 1,1 miliar pada tahun 2026.
Jumlah ini turun drastis dibandingkan anggaran tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 4 miliar hingga Rp 5 miliar.
Turunnya anggaran ini dampak dari program pengalihan anggaran atau efisiensi yang dilakukan oleh Pemkot Malang.
Arif menyebut, persoalan sampah seharusnya menjadi prioritas karena telah menjadi program nasional, termasuk perhatian pemerintah pusat.
Namun, dalam pembahasan di DPRD, anggaran untuk sektor ini belum mendapat porsi yang memadai.
“Masalah sampah ini sudah jadi isu nasional, bahkan program prioritas Presiden.
Tapi ketika kami suarakan, belum juga terakomodasi maksimal karena anggaran terbagi ke perangkat daerah lain,” katanya.
Ia juga menyinggung adanya beban anggaran besar di sektor lain, seperti program tertentu yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah, sehingga ruang fiskal untuk penanganan sampah menjadi terbatas.
Dengan keterbatasan anggaran tersebut, Arif mendorong DLH Kota Malang untuk lebih kreatif dalam mengelola sistem persampahan, terutama pada tahap pengangkutan dan pengelolaan di TPS.
“Dari rumah ke gerobak sebenarnya aman. Masalahnya di TPS, sering terjadi antrean dan penumpukan,” jelasnya.
Menurutnya, perbaikan manajemen waktu dan alur pengangkutan menjadi kunci untuk mengurangi penumpukan sampah.
Baca juga: Kisah Inspiratif Kurniawan Taufiq Kadafi, Dokter Spesialis Anak di Kota Malang yang Jago Melukis
Local Service Delivery Program (LSDP)
Wahyu Hidayat
Arif Wahyudi
Pemkot Malang
Kota Malang
SURYAMALANG.COM
| 80 Angkot Bakal Beroperasi Menjadi Angkutan Pelajar di Kota Malang |
|
|---|
| Kisah Inspiratif Kurniawan Taufiq Kadafi, Dokter Spesialis Anak di Kota Malang yang Jago Melukis |
|
|---|
| Soal Wacana Penutupan Prodi, Warek UB : Bukan Hal Tabu tapi Tak Bisa Dilakukan Tergesa-gesa |
|
|---|
| Hotel Santika Premiere Malang Raih Penghargaan Pelestarian dan Pengelolaan Lingkungan dari Pemkot |
|
|---|
| Disporapar Kota Malang Siapkan Revitalisasi Kampung Tematik, Fokus Inovasi dan Kolaborasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Pekerja-memindahkan-sampah-dari-TPS-ke-truk-sampah-di-Jalan-Sulfat-Kota-Malang.jpg)