Kepala Cabang Bank BUMN Dibunuh

NASIB Dwi Hartono Otak Pembunuhan Kacab Bank Dinonaktifkan UGM, Pernah Terjerat Kasus Ijazah Palsu

Nasib Dwi Hartono pengusaha sekaligus otak pembunuhan dan penculikan ke Mohamad Ilham Pradipta. Dnnonaktifkan UGM dan pernah terjerat ijazah palsu.

Penulis: Frida Anjani | Editor: Frida Anjani
KOLASE Tribun Jambi/HO/Tangkapan IG @Klanhartono dan website mm.feb.ugm.ac.id
NASIB DWI HARTONO - Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menonaktifkan status mahasiswa Dwi Hartono (DH), tersangka kasus pembunuhan Ilham. Sebelum mendalangi penculikan dan pembunuhan kepala cabang bank BUNM, Muhamad Ilham Pradipta, pengusaha asal Jambi Dwi Hartono ternyata penah terjerat kasus pemalsuan dokumen 

SURYAMALANG.COM - Kasus penculikan yang berakhir dengan pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta Kepala Cabang Bank BUMN di Jakarta hingga kini masih menjadi sorotan. 

Terungkap nasib Dwi Hartono pengusaha sekaligus otak pembunuhan dan penculikan ke Mohamad Ilham Pradipta.

Kini, Dwi Hartono dinonaktifkan dari UGM. 

Dirinya sendiri terdaftar sebagai mahasiswa baru Program Studi Magister Manajemen, FEB UGM.

Selain dinonaktifkan dari UGM, ternyata Dwi Hartono pernah terjerat kasus ijazah palsu sampai masuk penjara. 

Dwi Hartono terjerat kasus pemalsuan ijazah dan nilai palsu sejumlah mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung atau Unissula Semarang pada tahun 2012.

Bahkan, Majelis hakim menjatuhkan vonis enam bulan penjara kepada Dwi Hartono.

Vonis itu lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yakni satu tahun penjara.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Andika Dharma Sena mengonfirmasi kasus tersebut.

“Iya benar, di tahun 2012 terkait pemalsuan ijazah SMA,” kata AKBP Andika Dharma dikutip dari Kompas.com.

Dwi ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Resor Kota Besar Semarang

Saat itu, Dwi Hartono tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Unissula angkatan 2004. 

Baca juga: PENAMPAKAN Rumah Mewah Dwi Hartono Otak Pembunuhan Kacab Bank BUMN, Pengusaha Punya Helikopter

Dia menyebar brosur bimbel dengan nama "Smart Solution" yang berisi penawaran menjadi mahasiswa di jurusan kedokteran, kebidanan, keperawatan, farmasi, dan akuntansi dengan jaminan pasti diterima sejak 2006. 

Dwi kemudian mengubah nilai dan ijazah para calon mahasiswa dari jurusan IPS menjadi IPA. 

Atas tindakannya itu, dia menerima uang mulai dari Rp 5 juta-Rp 10 juta dari setiap calon mahasiswa yang mendaftar.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved