Jumat, 15 Mei 2026

Tutorial Beli Emas Saat Harganya Terus Meroket Menurut Pakar, Diprediksi Tembus Rp 4,2 Juta per Gram

Reli kenaikan harga emas semakin memperkuat posisi logam mulia sebagai instrumen investasi unggulan. Simak saran investasi emas menurut pakar.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Frida Anjani | Editor: Frida Anjani

“Kalau seandainya ada masyarakat yang sudah memiliki logam mulia atau emas perhiasan sudah begitu lama, ini mungkin kesempatan untuk dijual. Karena intinya investasi di logam mulia atau perhiasan atau emas itu kan untuk cari untung,” ujar Ibrahim.

Namun, ia menegaskan keputusan menjual atau menahan emas tetap bergantung pada target investasi masing-masing individu.

“Tetapi kalau seandainya mereka ingin mendapatkan untung besar, ya tahan sampai akhir tahun 2026 atau bahkan sampai tahun 2028, pada saat Presiden Trump sudah selesai memimpin Amerika, ya emas ini masih sangat potensial untuk ditahan,” lanjutnya.

Panduan untuk yang Belum Punya Emas

Sementara bagi masyarakat yang belum memiliki emas, Ibrahim menyebut peluang investasi masih terbuka lebar, meskipun harga sudah berada di level tinggi.

“Bagi masyarakat yang belum memiliki, ya memang harganya akan terus mengalami kenaikan. Mereka masih bisa melakukan pembelian,” katanya.

Jika harga emas fisik dirasa terlalu berat, Ibrahim menyarankan alternatif investasi yang lebih terjangkau dan fleksibel.

“Kalau merasa berat dengan logam mulia yang sudah di atas Rp 3 juta per gram, bisa melakukan pembelian atau menabung di bullion bank atau emas digital,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, tren ini sejalan dengan pergeseran perilaku generasi muda yang mulai meninggalkan aset berisiko tinggi.

“Saat ini Gen Z banyak beralih ke emas digital atau bullion bank. Kenapa? Karena sebelumnya mereka mengalami kerugian besar di aset kripto, lalu berpindah berbondong-bondong ke emas digital,” jelasnya.

Permintaan Tinggi, Pasokan Terbatas

Lonjakan minat masyarakat terhadap emas, kata Ibrahim turut diperkuat oleh keterbatasan pasokan.

Ibrahim menyebut fenomena fear of missing out (FOMO) membuat banyak orang berlomba membeli emas di saat yang sama.

“Masyarakat ini FOMO, semua ingin membeli emas. Sementara emasnya terbatas,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan, membeli emas di toko perhiasan kerap membuat harga menjadi lebih mahal dibandingkan harga resmi Antam atau Pegadaian.

“Kalau kita beli emas di toko perhiasan, pasti logam mulia harganya lebih mahal dibandingkan harga yang sudah ditentukan Antam maupun Pegadaian,” katanya.

Karena itu, bullion bank dinilai menjadi solusi yang menjembatani kebutuhan masyarakat untuk berinvestasi emas tanpa harus menghadapi kendala harga dan penyimpanan fisik.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 2/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved