Selasa, 9 Juni 2026

2 Skema Pemerintah Sikapi Ancaman Krisis BBM Buntut Perang, Harga Pertalite Dijamin Tidak Naik

Konflik Iran vs AS-Israel bikin harga minyak dunia makin panas! Tapi pemerintah sudah siapkan 2 skema darurat jamin harga Pertalite tidak naik.

Tayang: | Diperbarui:
SURYAMALANG.COM/Hanif Manshuri
PENINGKAT PEMBELIAN BBM - Sejak dua hari ini tampak adanya peningkatan pembelian BBM di SPBU di Lamongan, Selasa (4/3/2026). Pemerintah Indonesia menyiapkan dua skema strategis untuk menyikapi ancaman krisis energi akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel terhadap Iran. 

"BBM dalam negeri itu kan dibagi menjadi dua. Ada harga yang disubsidi, ada harga yang diserahkan kepada pasar" kata Bahlil saat jumpa pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

"Kalau harga yang disubsidi, yang bensin, Pertalite, itu mau naik berapa pun tetap harganya sama," imbuhnya. 

Baca juga: Bahlil: Stok BBM Nasional Aman, Harga Pertalite Tak Akan Naik Meski Konflik Iran-Israel Memanas

Saat ini, bensin RON 90 jenis Pertalite milik PT Pertamina tetap dijual seharga Rp10.000 per liter.

Bahlil menambahkan, kenaikan harga Pertalite hanya bisa terjadi jika ada ketetapan langsung dari pemerintah.

Hingga saat ini, Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut memastikan belum ada pembahasan mengenai perubahan harga Pertalite maupun subsidi Solar meski terjadi konflik di Timur Tengah.

"Termasuk dengan subsidi solar. Sampai dengan kami rapat tadi, belum ada (isu kenaikan harga). Jadi aman-aman saja," ucap Bahlil.

Dengan kepastian tersebut, mantan Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM ini meminta publik tidak perlu khawatir, terutama bagi masyarakat yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan dan menyambut Hari Raya Idulfitri.

"Hari raya yang baik, puasa yang baik, Insya'Allah belum ada kenaikan harga BBM," tuturnya.

Baca juga: Perang Amerika-Israel Vs Iran Memanas, Akademisi UB Malang Sebut Posisi Indonesia Serba Dilematis

Namun, untuk jenis BBM dengan RON lebih tinggi atau nonsubsidi, Bahlil menjelaskan harganya akan tetap mengikuti mekanisme pasar.

Hal ini juga berlaku bagi BBM merek swasta seperti Shell, Vivo, dan BP AKR.

"Tetapi kalau untuk (bensin) non-subsidi, artinya harga pasar, dia akan fluktuatif berdasarkan dinamika harga pasar yang ada, yang sudah terjadi sebelumnya" lanjutnya. 

"Itu kan sudah terjadi bukan baru sekarang kan? dan itu sudah terjadi sebelum-sebelumnya berdasarkan permen tahun 2022. Bahwa harga itu bisa kalau yang non-subsidi itu bisa terjadi dinamika," pungkas Bahlil.

Antrean Kendaraan di SPBU Lamongan Meningkat

Sedangkan di daerah, sejak dua hari terakhir, aktivitas pembelian bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU dalam Kota Lamongan mengalami peningkatan.

Lonjakan tersebut terlihat dari antrean kendaraan yang didominasi oleh roda dua, sementara untuk kendaraan roda empat peningkatannya belum terlalu signifikan.

Pantauan di beberapa SPBU wilayah dalam kota menunjukkan kendaraan roda dua mengisi barisan antrean.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved