Sabtu, 25 April 2026

2 Skema Pemerintah Sikapi Ancaman Krisis BBM Buntut Perang, Harga Pertalite Dijamin Tidak Naik

Konflik Iran vs AS-Israel bikin harga minyak dunia makin panas! Tapi pemerintah sudah siapkan 2 skema darurat jamin harga Pertalite tidak naik.

|
SURYAMALANG.COM/Hanif Manshuri
PENINGKAT PEMBELIAN BBM - Sejak dua hari ini tampak adanya peningkatan pembelian BBM di SPBU di Lamongan, Selasa (4/3/2026). Pemerintah Indonesia menyiapkan dua skema strategis untuk menyikapi ancaman krisis energi akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel terhadap Iran. 

Ringkasan Berita:
  • Respons cepat pemerintah terhadap lonjakan harga minyak mentah WTI dan Brent melalui dua kebijakan: menjaga subsidi APBN untuk melindungi daya beli masyarakat dan mengantisipasi kenaikan harga komoditas global. 
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga Pertalite dan Solar tetap stabil di tengah ketegangan Timur Tengah, terutama selama periode Ramadan dan Idulfitri. 
  • Sementara untuk BBM nonsubsidi, harga akan terus mengikuti fluktuasi pasar sesuai regulasi yang berlaku.

SURYAMALANG.COM, - Pemerintah Indonesia menyiapkan dua skema strategis untuk menyikapi ancaman krisis energi akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, APBN akan disiagakan sebagai buffer (penyangga) guna meredam dampak kenaikan harga minyak dunia.

Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas ekonomi nasional dan memberikan jaminan harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat.

2 Skema Pemerintah Sikapi Ancaman Krisis

Airlangga Hartarto, menyebutkan kondisi eskalasi yang meninggi saat ini serupa dengan apa yang pernah dialami Indonesia saat konflik Rusia-Ukraina beberapa tahun belakangan.

Menurutnya, setiap perang yang terjadi pasti akan membawa dampak bagi Indonesia, terutama terkait kenaikan harga minyak dunia.

"Ya kita kan pernah mengalami pada saat perang Ukraina, dan pada saat itu harga minyak naik tinggi dan harga komoditas naik tinggi," ujar Airlangga saat ditemui di Menara Batavia, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Baca juga: Alasan Iran Serang Pusat Data Amazon di Dubai dan Bahrain, Investasi AI 2 Triliun Dolar Terancam

Berdasarkan catatan pasar, saat ini harga West Texas Intermediate (WTI) telah naik 1,86 persen menjadi US$ 76,05 per barel, sementara minyak mentah Brent berada di kisaran 81,40 dolar AS per barel.

Dari sisi ekonomi, mantan Ketua Umum Partai Golkar ini menjelaskan pemerintah Indonesia memiliki dua posisi dalam menyikapi eskalasi perang tersebut.

Pertama, mempertahankan subsidi dari APBN guna menjaga daya beli masyarakat.

Kedua, kemungkinan menetapkan kenaikan harga terhadap beberapa komoditas tertentu.

"Bagi Indonesia kan dua sisi. Di satu sisi tentu yang terkait dengan subsidi kita jaga, dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi akan kita lanjutkan, dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tetapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau komoditas itu naik," jelas Airlangga.

Mengenai langkah konkret pemerintah saat ini, Airlangga menanggapinya dengan tenang dan menyatakan pemerintah masih menunggu perkembangan situasi ke depan.

"Tapi kita tentu melihat situasinya masih too early to call, masih terlalu pagi," tukasnya.

Jaminan Harga BBM Bersubsidi Jelang Idulfitri

Senada dengan hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya telah menegaskan konflik yang melibatkan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran tidak akan memengaruhi harga BBM jenis Pertalite.

Hal ini dikarenakan Pertalite merupakan komoditas bensin yang harganya disubsidi oleh pemerintah.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved