Malang Raya

Sempat Vakum, Begini Kondisi Seni Bantengan Sekarang

Agus mencoba menghidupkan kembali kesenian Bantengan yang sempat terkenal di Malang Raya pada 2008.

Sempat Vakum, Begini Kondisi Seni Bantengan Sekarang
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Agus Riyanto dan koleksi kepala banteng di kamar pribadinya, Rabu (22/2/2017). 

SURYAMALANG.COM, BATU - Berperawakan besar, dan rambut keriting gondrong yang dibiarkan terurai sehingga hampir menutupi separuh wajahnya. Itulah sosok Agus Riyanto yang akrab dipanggil Agus Tubrun.

Warga Jalan Brantas, Kelurahan Ngaglik, Kota Batu ini merupakan seniman. Ditemui di rumahnya, Rabu (22/2/2017), Agus tampak sibuk.

Tangannya memegang kuas cat, dan dihadapannya ada satu kanvas besar. Di kanvas itu sudah ada lukisan setengah jadi yang sedang digarap.

Siapa sangka, dia merupakan pahlawan bagi kesenian yang hampir punah, yaitu kesenian Bantengan. Kesenian Bantengan yang terkenal dengan berbagai ritual ini sudah bertahun-tahun vakum di dunia pertunjukan.

Agus melihat kesenian ini sudah tidak ada lagi. Bahkan punah. Agus mencoba menghidupkan kembali kesenian Bantengan yang sempat terkenal di Malang Raya pada 2008. Dia langsung mengadakan pentas besar-besaran di Kota Batu.

“Teringat Kakek yang dulu getol membuat pertunjukan Bantengan. Dia seorang pencak silat Bantengan. Saya hanya berusaha meneruskan,” kata Agus.

Begitu Agus mengadakan pentas, warga sangat antusias. Dia berhasil mengumpulkan 60 kelompok Bantengan dari berbagai daerah.

Walaupun kesulitan membangkitkan kembali kesenian Bantengan, Agus takjub dengan sikap antusias masyarakat terhadap kesenian. Apalagi seniman Bantengan ini memiliki jiwa kekeluargaan.

“Begitu mereka tahu akan ada pertunjukan kesenian Bantengan, mereka saling terkoneksi, dan saling memberi kabar. Saya sangat salut. Kekeluargaannya sangat erat,” imbuh ayah dari tiga orang anak ini.

Pertunjukan kesenian Bantengan mulai rutin diselenggarakan di Kota Batu sejak 2008 sampai 2015. Kesenian Bentengan tak lagi dipertunjukkan melalui karnaval pada 2016. Bantengan hanya digelar melalui kolosal di Stadion Glora Brantas, Kota Batu.

Perubahan penyajian kesenian Bantengan ke Kolosal ini karena tidak mungkin digelar dalam bentuk karnaval. Selain menggangu pengguna jalan, sekali pertunjukan butuh waktu lebih dari 24 jam.

“Banyak yang menentang pertunjukan kami. Banyak juga yang mendukung. Ketika karnaval, ada yang mengatakan menganggu lalu lintas. Ada juga yang merasa dirugikan oleh pertunjukan kami. Maka dari itu, kami adakan pertunjukan dalam bentuk kolosal di stadion,” tuturnya.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Zainuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved