Universitas Brawijaya

Difodeaf, Aplikasi Buatan Mahasiswa Universitas Brawijaya untuk Penyandang Tunarungu

Penciptaan aplikasi yang memanfaatkan android ini dengan latar belakang di Filkom juga banyak mahasiswa tunarungu.

Difodeaf, Aplikasi Buatan Mahasiswa Universitas Brawijaya untuk Penyandang Tunarungu
Anjas Asmoro, mahasiswa Filkom Universitas Brawijaya Malang yang membuat aplikasi Difodeaf. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Tiga mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (UB) Program Studi Teknik Informatika (Prodi TIF) angkatan 2016 membuat aplikasi Difodeaf (Dictionary for Deaf). Mereka adalah Anjas Pramono, Jauhar Bariq Rachmadi dan Avisenna Abdillah Alwi.

"Dengan aplikasi ini bisa membantu kita berkomunikasi dengan penyandang tunarungu," jelas Anjas Pramono pada Suryamalang.com, Jumat (22/6/2018).

Penciptaan aplikasi yang memanfaatkan android ini dengan latar belakang di Filkom juga banyak mahasiswa tunarungu.

"Tapi yang bisa bahasa isyarat kan terbatas," jelas dia. Di aplikasi itu juga ada fitur game. "Nanti bisa buat belajar bahasa bahasa isyarat buat adik-adik. Jika sudah terbiasa, maka akan respek," kata dia. Ujicoba sudah dilakukan dengan kerjasama PSLD (Pusat Studi Layanan Disabilitas) UB terutama dengan volunteer (relawan).

Katanya, saat dicoba di lingkungan Filkom sendiri, mahasiswa tunarungu juga senang karena mendapat teman komunikasi. "Aplikasinya mudah. Tinggal memasukkan kata dan kalimat. Misalkan saya, maka akan menjadi gambar ilustrasi bahasa isyarat. Fiturnya dapat mengubah Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia.

Aplikasi ini pernah mendapatkan silver medal kompetisi internasional, International Invention, Innovation and Articulation (I-IDEA 2018 CROWN) di Universiti Teknologi MARA, Malaysia pada 26 April 2018. "September 2018 nanti, saya juga ikut lomba lagi. Tapi aplikasi buat tuna daksa," jelasnya.

Kata Anjas, ia tertarik pada mengatasi masalah disabilitas senyampang masih jadi mahasiswa. "Saya interest kesana. Karena saya mahasiswa IT, maka saya bikin aplikasi," ujar Anjas. Namun bentuknya masih belum dibocorkan. Soal aplikasi Difodeaf ini ia berharap mendapat perhatian dari Mendikbud.

"Harapan saya sederhana. Semoga ditindaklanjuti pemerintah. Memberi support pada hak paten. Syukur-syukur dibantu Mendikbud," jelas Anjas. Katanya, ia tidak mengharapkan reward atau hadiah dari pemerintah. "Kalau dibantu dipatenkan, saya akan sukarela menyerahkan agar kemanfaatannya lebih meluas," papar dia.

Sebab, aplikasi ini bisa digunakan di setiap sekolah, baik guru pengajar yg belum bisa bahasa isyarat. "Mengingat dari luar negeri, Malaysia sudah kontak saya tertarik dengan aplikasi saya. Tapi
saya masih belum respon balik ke Malaysia," ceritanya.

Malaysia ingin mematenkan dan menjadikannya di jurnal internasional. "Tapi saya masih berharap pemerintah Indonesia yang akan mengembangkan aplikasi ini dulu," pintanya. Andai tidak ada direspons, maka saya iklaskan ke Malaysia agar cakupannya lebih internasional, khususnya membantu teman-teman difabilitas internasional.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved