Kediri

Kontraktor Perpustakaan IAIN Kediri Belum Bayar Rp 4 Miliar

PT Delbiper Cahaya Cemerlang dari Jakarta punya tanggungan total mencapai Rp 4 miliar lebih.

Kontraktor Perpustakaan IAIN Kediri Belum Bayar Rp 4 Miliar
didik mashudi
Dua pekerja membentangkan poster protes di depan bangunan Perpustakaan IAIN Kediri yang mangkrak, Rabu (25/7/2018) petang. 

SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Pekerja sub kontraktor pembangunan gedung perpustakaan IAIN Kediri unjuk rasa. Aksi dilakukan dengan membentangkan spanduk bernada protes dugaan korupsi pembangunan gedung perpustakaan, Rabu (25/7/2018).

Spanduk yang dibentangkan pekerja bertuliskan, "Gedung Perpustakaan IAIN Kediri Mangkrak Penuh Rekayasa Korupsi".

Aksi itu dilakukan karena ada 8 sub kontraktor pembangunan gedung sampai sekarang masih belum dibayar oleh kontraktor pelaksana PT Delbiper Cahaya Cemerlang dari Jakarta.

Nilai total uang tagihan belum terbayar mencapai Rp 4 miliar lebih.

Sesuai kontrak kerja pembangunan, gedung perpustakaan IAIN Kediri mestinya sudah harus tuntas akhir Desember 2017. Namun faktanya pembangunan malah molor hingga ada adendum kedua hingga akhir Maret 2018.

Hingga batas waktu sudah habis, pembangunan gedung perpustakaan masih belum tuntas. Karena dari laporan pembayaran pembangunan gedung baru selesai sekitar 93 persen.

Hanya, faktanya di lapangan realisasi pembangunan fisik baru selesai sekitar 82 persen. Karena banyak perlengkapan di lantai dua, tiga dan empat yang masih belum diselesaikan.

Darmanto dari PT Bintang Abadi Cemerlang, salah satu sub kontraktor yang menyediakan skafolding tagihannya sebesar Rp 700 juta masih belum dibayar.

"Kami sudah diberi BG (bilyet giro) sama kontraktor. Tapi BG tidak dapat dicairkan," ungkapnya.

Sejauh ini pembayaran yang telah diberikan kontraktor baru cicilan sebesar Rp 25 juta dan Rp 50 juta. Jika ditotal dengan klaim kerusakan tagihannya sekitar Rp 800 juta.

Darmanto mengaku meski telah berupaya menyediakan skafolding tapi pihak kontraktor masih belum ada itikat baik menyelesaikan pembayaran. "Kami berharap pembayaran diselesaikan secara musyawarah. Kami sudah dirugikan banyak," ujarnya.

Dijelaskan, jika proyek pembangunan perpustakaan tidak tersendat-sendat biaya sewa eskafolding hanya sekitar Rp 400 jutaan. Namun karena proyeknya tersendat dan molor banyak biaya yang bertambah.

Sumber Surya mengungkapkan, di balik tersendatnya penyelesaian gedung perpustakaan diduga ada permainan. Karena ada laporan pembangunan gedung telah diselesaikan 93 persen, padahal faktanya baru sekitar 82 persen. "Banyak pekerjaan belum diselesaikan," ungkapnya.

Dengan laporan tersebut pihak rekanan telah dapat mencairkan dana proyeknya sesuai pekerjaan yang telah diselesaikan. Hanya saja meski sudah dibayar, pihak rekanan masih belum menyelesaikan pembayaran kepada sub kontraktor.

Beberapa kali ditagih, pihak sub kontraktor hanya mendapatkan janji.

Tags
Kediri
Penulis: Didik Mashudi
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help