Nasional

Berita Lengkap Gadis Bali yang Lumpuh Total Mendadak, Terasa Mulai Kursus Bahasa Inggris di Kediri

Nia terjangkit penyakit langka ini saat tengah menempuh pendidikan bahasa di kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur.

Editor: Adrianus Adhi
Kadek Nia Murni Yastini. 

SURYAMALANG.com - Malang tak bisa ditebak. Musibah atau penyakit bisa datang kapan saja dan menyerang siapa saja.

Nia yang selama ini sehat, bugar, dan jarang sakit mendadak lumpuh total.

Kadek Nia Murni Yastini (18), nama lengkap remaja siswi SMK Penerbangan Cakra Nusantara Bali itu didiagnosa tim dokter menderita penyakit langka, yakni Guillane Bare Syndrome (GBS), sebuah penyakit yang mengacaukan kerja sistem kekebalan tubuh mandiri (auto-immune disease).

Penyakit ini menyerang berbagai usia dengan kemunculannya yang juga seketika.

Penyakit ini timbul dari pembengkakan syaraf peripheral, sehingga mengakibatkan tidak adanya pesan dari otak untuk melakukan gerakan yang dapat diterima oleh otot yang terserang.

Ketut Yastawa (59), ayah kandung Nia, saat ditemui Tribun Bali di ruang tunggu ICU RSUD Wangaya mengatakan, awalnya informasi itu ia terima sekitar Kamis (22/8/2018) lalu.

Saat itu, anaknya sedang menempuh pendidikan bahasa di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur selama dua bulan.

Namun, pada sekitar 2 minggu sebelum kepulangannya ke Bali, anak bungsu dari enam bersaudara ini mengabarkan kondisinya via telepon seluler.

"Waktu itu saya kira dia hanya sakit biasa, demam atau kelelahan. Jadi hanya saya suruh istirahat banyak dan minum obat saja."

"Tiba-tiba, besoknya saya dapat kabar dari guru pedampingnya di sana, Nia masuk rumah sakit dan tubuhnya lumpuh total," kisahnya kepada Tribun Bali dengan wajah sembap, Rabu (29/8/2018).

Yastawa mengatakan, seluruh tubuh anaknya dikatakan mengalami kelumpuhan total, tidak bisa digerakkan sama sekali.

"Kejadiannya cepat. Awalnya, tangannya terasa berat. Lalu lanjut kakinya hingga akhirnya terus nggak bisa bicara."

"Nggak bisa makan minum dan akhirnya seluruh tubuhnya nggak bisa dipakai gerak. Tapi, tetap sadar. Nia masih bisa melek," katanya.

Lebih jelas, kronologi awal mula kejadian ini dijelaskan guru pendamping Nia di Kampung Inggris, Made Sutawan.

Guru pendamping Nia itu menerangkan, Nia terjangkit penyakit langka ini saat menempuh pendidikan bahasa di kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved