Tulungagung

Gara-gara Calon Besan Nakal, Tutut Merelakan Tanahnya Dieksekusi Pengadilan

Rumah dan tanah milik Tutut dieksekusi, karena menjadi jaminan pinjaman di Permodalan Nasional Madani (PNM).

Gara-gara Calon Besan Nakal, Tutut Merelakan Tanahnya Dieksekusi Pengadilan
suryamalang.com/David Yohanes
Pekerja dari PN Tulungagung memasang sekat di dalam rumah Tutut. 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Sejumlah pekerja dari Pengadilan Negeri (PN) Tulungagung memasang  beberapa tiang bambu di dalam rumah Tutut Sri Widya Astuti (63) di Desa Boyolangu Kecamatan Boyolangu, Kamis (1/11/2018) siang.

Mereka kemudian memasang sekat dari anyaman bambu sebagai tanda batas. Rumah dan tanah milik Tutut dieksekusi, karena menjadi jaminan pinjaman di Permodalan Nasional Madani (PNM).

Pinjaman tersebut tidak dibayar, sehingga tanah dan bangunan ini dilelang kemudian dieksekusi atas permintaan pemenang lelang. "Saya menjadi korban penipuan," ujar Tutut saat ditemui di rumahnya.

Tanah dan bangunan yang dilelang sebenarnya bagian dari tanah warisan dari orang tua Tutut. Perempuan berpenampilan modis ini berkisah, dirinya kenal baik dengan seseorang bernama Acik Kusnia. Keduanya bahkan nyaris menjadi besan.

"Ceritanya anak saya dan anak Acik ini pacaran, akan menikah," ungkap Tutut.

Sekitar September 2012 Acik mengaku butuh modal usaha dan ingin meminjam uang kepada Tutut. Tutut mengaku tidak punya uang dan hanya punya aset tanah. Tutut kemudian meminjamkan aset tanah seluas 161 meter persegi miliknya, serta sebuah mobil Toyota tahun 1994 untuk dipakai Acik.

Tanah ini berada di bagian depan dari satu rangkapan panjang tanah milik orang tua Tutut. "Karena tanah waktu itu atas nama ibu saya, sehingga sertifikat tidak bisa dijaminkan kalau tidak dibaliknama ke saya," tuturnya.

Proses balik nama itu kemudian dikerjakan oleh Acik. Tutut mengaku saat itu dirinya hanya diminta tanda tangan sejumlah dokumen oleh Acik dan seorang notaris. Semua dilakukan Tutut tanpa pikiran negatif, karena sangat percaya kepada calon besannya.

Namun Tutut kaget, karena sertifikat yang keluar ternyata atas nama Acik. "Saya sempat protes, kok atas namamu bukan nama saya. Dia janji satu tahun akan beres, nanti kembali atas nama saya," ujar Tutut.

Lagi-lagi Tutut percaya dengan janji yang diucapkan Acik. Sertifikat kemudian dimasukkan PNM untuk pinjam Rp 45 juta. Ternyata Acik tidak bisa melunasi utangnya, sehingga tanah dan bangunan yang difungsikan cafe dilelang oleh PNM.

Lelang dimenangkan oleh Sumiran, warga Kecamatan Bandung. Tutut sempat mengajukan gugatan hingga ke tingkat Mahkamah Agung. Namun upayanya sia-sia karena sertifikat tanah itu bukan atas namanya lagi, namun atas nama Acik.

"Dilelang seharga Rp 55 juta, terus saya tawar ke pemanang lelang seharga Rp 160 juta tapi tidak dikasih," ucap Tutik pasrah.

Tutut juga melaporkan Acik ke polisi atas tudingan penipuan dan penggelapan. Acik telah divonis satu tahun dua bulan dan sudah menjalani hukuman di Lapas Kelas IIB Tulungagung.

"Saya sendiri yang susah payah mencari Acik. Waktu itu saya bawa polisi supaya langsung ditangkap," terangnya.

Tutut marah dan kecewa dengan perilaku Acik. Ia memilih membatalkan rencana pernikahan anak mereka. "Gak jadi besanan. Anak saya sekarang sudah sarjana di Jakarta," pungkas Tutut. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved